Oleh Mustanirrah Gindah
Untuk semua c
ewek yang masih bermimpi. Seorang bidadari yang hingga kini belum ditemui. Entah dimana. Entah siapa. Namun ada. Untukmu…Duduklah diam, Tenang, pastikan tidak ada barang-barang yang mudah pecah termasuk yang gampang dilempar. Tapi kalau hanya boneka, tas yang gak ada isinya ya gak masalah, karena tidak akan menimbulkan kerusakan yang signifikan. Tarik nafas, pejamkan mata, bawalah diri anda seperti gelas kosong…..
Begitulah peringatan panitia sebelum memulai acara bedah buku ‘jangan sadarin cewek’. Ahad. 24 Muharram 1431H atau 10 januari 2010 M diruang serbagun
a Universitas Abdurrab pekanbaru. Memang perlu diberikan peringatan, karena dalam mengupas buku ini didalamnya akan penuh dengan singgungan, ejekkan, hinaan dan sekeranjang kata yang merendahkan mahkluk yang bernama perempuan. Buku yang ditulis oleh seorang ikhwan bernama Chio. Buku yang mewakili apa yang dipikirkan cowok tentang cewek. Adalah wajar jika membacanya akan meledakkan amarah. Buku yang membuat para cowok tersenyum penuh kemenangan. Tapi, buku ini sebenarnya memberi pencerahan tentang bagaimana para perempuan atau cewek seharusnya bersikap dalam dunia yang semakin sulit mencari pegangan. Acara yang dihadiri lebih dari 180 mahasiswi ini memberikan pencerahan bagaimana seharusnya perempuan dalam islam.
Di AS 1, 5 Juta aborsi(1988), Menurut Guttamchar Institut, hampir 60 % dari kaum wanita AS berusia di bawah 25 thn pernah mengalami aborsi. AS adalah no 1 dalam penderita Aids(Hingga 1991). Setiap tahun, 2, 4 juta rakyat AS menikah dan 1,2 juta bercerai. 3/4 dari jumlah penduduk dipimpin oleh orang tua tunggal wanita.75% penduduk Inggris merupakan hasil perzinaan. Sekitar 70% remaja AS menganggap hubungan seks di luar nikah dapat dibenarkan apabila keduanya saling mencintai. Dan pertanyaannya, mengapa para perempuan di Indonesia mengambil contoh dari mereka. Mebuka aurat, pacaran, bergaul bebas sampai pada parzinahan. Sebuah bentuk pembunuhan karakter perempuan yang sebenarnya. So, bagaimana seharusnya?
Jadilah bidadari. Karena kata ini yang tidak ada padanannya di dunia. Tidak ada yang namanya bidadara, kan??. Itulah kata pembedah buku yakni Nu
rkumala Sari, seorang aktifis dakwah intelektual kampus. Beliau menambahkan “Suatu hari seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW:’Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita di dunia ataukah bidadari bermata jeli, beliau jawab: wanita2 dunia lebih utama daripada bidadari, beliau menjawab, karena solat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah, Allah meletakkan cahaya di wajah mereka , tubuh mereka adalah kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwara hijau,perhiasannaya kekuningan, sanggulnya bermutiara dan sisirnya terbuat dari emas, mereka berkata: kami hidup abadi dan tiada mati, kami lemah lebut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tak pernah bersungut2 sama sekali, berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya(HR Tabrhani dari Ummu Salamah).
Menjadi bidadari didunia…yup….semua sepakat menjadi bidadari. Tapi bukan yang punya sayap itu lo….(he..he..). tapi seorang perempuan yang yang terhormat, punya harga diri, terjaga dan bersiap memperjuangkan agama ini, seperti apa gambarannya? Kenalilah diri sendiri…. Dari mana berasal, mau ngapain didunia and mau kemana sesudah kehidupan. Untuk membantu menjawab itu semua, Kemuslimahan Ldk Ath-Tahbrani menawarkan pembinaan diri kepada peserta. Dan Alhamdulillah hampir seluruh peserta bersedia dibina. Yang jadi masalah…pembinanya yang kurang(ha…ha…)….
Semoga dakwah ini semakin berkembang….takbir!!! Allahu Akbar….
“tak seperti bintang dilangit, tak seperti indah pelangi….karena diriku bukanlah mereka.......ku apa adanya…..sya..lal..la…”
Lantunan nasyid dari duo maia ups…duo mustaniroh maksudnya,mencoba mengahangatkan peserta.
Selengkapnya...
Kamis, 21 Januari 2010
“JANGAN SADARIN” IN ACTIONS
Sabtu, 16 Januari 2010
Renungan (Rugi Kalo ga baca)
[tulisan dari seorang sahabat : Ani Lestari]
sepenggal cerita telah kuterima, sebuah kisah nyata yang membuatku merasa takut dan tersudut. Tentang seorang wanita yang mengenal lawan jenisnya di dunia maya. Wanita itu disapa seorang lelaki dengan kata-kata bijaksana. Hampir setiap hari, nasehat dan motivasi mengalir silih berganti. Lelaki itu tampak baik, sholeh, terpuji dengan pengetahuan agama yang mumpuni.
Simpati pun timbul, rasa suka itu muncul. Meski berbeda budaya dan dipisahkan oleh samudra hubungan itu terjalin begitu saja. Tak lagi peduli jilbab lebar yang ia kenakan, cinta dan suka tetap bisa melanda. Lelaki itu pun tampaknya bukan seorang pengecut, ia datangi rumah sang wanita dan bertemu dengan orang tuanya, kemudian berkata ingin menjalin hubungan yang tidak biasa.
Suatu ketika ada seorang perempuan yang tak dikenal menyampaikan sapaan pada sang wanita. Perempuan itu banyak bertanya kemudian mulai bercerita. Ia bercerita tentang lelaki yang sama, lelaki yang wanita kenal di dunia maya, yang pernah datang ke rumahnya. Tuturan si perempuan begitu mengejutkannya, membuat hatinya gundah. Bagaimana tidak? Lelaki yang ia sangka terpuji dengan pengetahuan agama mumpuni rupanya punya sisi tercela yang tak ia sangka.
Jauh hari sebelum ke rumah sang wanita, lelaki itu telah menjalin hubungan dengan si perempuan. Hubungan yang begitu dalam. Hubungan itu terjalin dengan cara yang sama, saling mengenal melalui dunia maya, kemudian kata-kata bijak juga ditebarkan, tempat tinggal yang berjauhan dan telah bertemu dengan orang tua si perempuan. Malah sang wanita menangkap bahwa si perempuan telah berbadan dua.
Saat lelaki itu dicecar dengan pertanyaan, ia mengakui semuanya dan memang sengaja menunggu hingga sang wanita tahu. Namun tak ada sesalan, tak ada ketegasan sikap, tak ada keberanian memutuskan pilihan atau keberanian mempertanggungjawabkan perbuatan dan terkesan menganggap itu bukanlah masalah besar. Dan lelaki ini pun berlindung di balik kata, "Biarlah nanti Allah yang menentukan."
Meski sudah diketahui belangnya, lelaki itu tetap saja memaksakan kehendaknya untuk menyunting sang wanita. "Bagaimana dengan perempuan itu?" tanya sang wanita. Dan dengan ringan lelaki itu menjawab, "Kalau pun ia nanti kunikahi aku juga akan tetap menikahimu."
"Rakus, egois, tidak tahu malu. Apakah semua lelaki seperti ini?" Batin wanita itu bertanya.
"Inikah lelaki? Yang hanya bisa merayu, mengumbar kata-kata bijaksana untuk melemahkan hati wanita kemudian mencampakkannya?"
"Inikah calon qowwam? inikah calon pelindung dan pembimbing keluarga? Begitu egoisnya dan mementingkan nafsunya semata?
"Inikah lelaki...?"
Dan aku hanya termenung bingung. Aku cuma bisa malu dengan yang dilakukan oleh kaumku. Kata pembelaan tak kusampaikan, karena pria seperti itu memang ada. Hanya kalimat pendek yang kukatakan, sebentuk cerminan asa yang menggumpal dalam dada, "Semoga tidak semua pria melakukan hal yang sama..."
Rasa takut terajut, ketakutan bahwa aku melakukan hal yang tak jauh berbeda. Mungkin pula tanpa sadar, kata-kata bijak, hikmah, nasehat, saran dan masukan berubah menjadi umpan untuk menarik perhatian. Betapa ruginya bila segala yang disampaikan berakhir sia-sia di sisi-Nya...
Dan entah dari mana, terngiang sebuah seruan yang menggema, menusuk-nusuk jiwa... duhai pemuda! Bencana! Duhai pemuda! Bencana!
Duhai pemuda, Bencana!
Saat kau hanya sibuk mengumbar kata di antara wanita. Berdalih menyerukan kebenaran dan menunjukkan jalan kebaikan. Namun kau begitu menikmati di kala wanita-wanita itu mengagumi dan menyukai setiap kata yang kau ucapkan. Tak kah kau sadari, lubang neraka sedang engkau masuki karena telah menyebabkan hati-hati itu tertambat pada selain Ilahi?
Duhai pemuda, Bencana!
Saat kamu tak juga menjaga pandangmu. Memilih dan memilah target dakwah hanya berdasar rupa dan jenis kelaminnya. Kamu demikian bangga saat komentar dan ucapan terima kasih dari lawan jenismu datang mengisi hari-harimu. Apa kamu kira berpahala di sisi-Nya? Apa kamu kira kau terpuji dan masuk surga ketika engkau mencari perhatian kaum wanita. Duhai meruginya saat syirik kecil dibiarkan bercengkrama di dasar hatinya.
Duhai pemuda, Bencana!
Saat hati telah terkotori syahwat syaithoni. Sungguh dakwah picisanmu tak ada nilainya. Sedang nabi saja ditegur oleh-Nya dengan surat 'Abasa, karena lebih senang menyampaikan ajaran Islam dan berbincang dengan para pemuka dari pada dengan seorang yang buta.
Duhai pemuda, Bencana!
Dan apa yang akan kau katakan? Pembelaan? Beralasan dengan dalil "Semua tergantung pada niatnya."? Apakah kau pikir niat baik saja cukup untuk membuat amal yang kau lakukan diterima di sisi-Nya tanpa ittiba' pada Nabi-Nya? Apakah Rasulullah mengkhususkan untuk menyapa kaum wanita saja? Apakah Rasulullah menggunakan kata-kata bijaksana untuk merayu lawan jenisnya? Apakah Rasulullah berlama-lama dalam berbincang tanpa tujuan dengan kaum hawa yang bukan mahromnya?
Duhai pemuda, sayangilah dirimu. Sebelum ketentuan-Nya berlaku, dan tak ada lagi pintu yang dibuka untukmu. Ia memang pengasih, namun adzab-Nya pun juga pedih.
Selengkapnya...
Kamis, 31 Desember 2009
Jangan Sadarin……..
Gindah Mustanirrah
Jangan sadarin mereka….
Kalimat itu meluncur dari seorang sahabat, akhir-akhir ini memang kami sering pakai kata ‘jangan sadarin’, maklumlah korban Chio,(sssst……gak tau ya?? Itu tuh ikhwan yang suka buka rahasia orang, termasuk para jilbaber. Kalo kamu mau kenal lebih dalam, segera hubungi aku, maksudnya aku punya buku serinya). Ketika bête dengan dosen karena gak mau juga terima bahwa solusi atas kemiskinan masyarakat adalah karena kapitalisme yang diterapkan, kalimat ‘jangan sadarin’ keluar dengan mudah, ketika melihat dua orang manusia berbeda jenis berasyik masyuk didepan kampus padahal udah dibilang jangan suka deket-dekatan ntar mesum, tapi mereka ogah ngedengerin, kami juga berkata ‘jangan sadarin’. Ketika menonton para elit politisi negri ini saling tuding menuding terkait kasus Century, kami juga geleng-geleng sambil barkata ‘jangan sadarin’.
‘jangan sadarin’ aku persepsi sebagai sebuah kata yang berarti tidak perlu disadarkan lagi. Artinya, jangan lagi menyadarkan orang, karena sudah terlalu bebal atau kacau. Kata yang menunjukkan betapa ‘kerasnya’ orang yang hendak disadarkan. Tak bisa dipungkiri bahwa menyadarkan orang bukanlah hal yang mudah. Penuh pengorbanan., bahkan air mata. Saat orang yang ingin disadarkan itu terlelap dalam mimpinya, kita justru tak bisa tidur memikirkannya. Bagaimana cara agar ia bisa menerima kebenaran, membangun kesadaran, serta ikut menjadi bagian yang terinternalisasi dalam kebenaran tersebut.
Panas terik, hujan badai (ahh…lebay….) dilalui hanya demi sampai ke kost-kostsan dia untuk mendiskusikan kebenaran, tapi hasilnya?? Dia tak merespon sedikitpun bahkan mengantuk dengan ocehan-ocehan kita(yang lebih parah, kita tak diizinkannya masuk, jadilah kita basah-basahan diteras rumahnya…duh…kasiannya nasibmu kawan). Hari berikutnya tak menyerah. berikan sms-sms motivasi. Tanyakan kabarnya, berikan doa untuknya. Kemudian, masakkan kue kesukaannya, telepon, dan tanyakan apakah ia perlu bantuan. Selanjutnya, ia mulai bersimpati. Ia kemudian meminta kita menemaninya ketoko buku, jalan-jalan ke mal, shopping dsb. Ya…demi menyadarkan dia, akhirnya menemaninya. Kemudian ia menceritakan permasalahan hidupnya. Akhirnya berikan ia solusi, dan kita pun berfikir, ‘jika ia sudah menjadikan kita teman curhatnya, ini berarti ia menaruh kepercayaan pada kita, ini adalah awal yang baik dalam rangka menyadarkan dia’.
Waktu berselang, semakin dekat dengannya, Mulai mengajaknya ikut dalam kajian-kajian, seminar-seminar, daurah bahkan Aksi. Awalnya ia mengikuti dengan ‘rela’, tapi lama kelamaan ia mengeluhkan sikap kita. Ia tak suka diajak ketempat-tempat itu, tak suka dilibatkan meski sebagai peserta, alasannya?? Sama seperti alasan basi kebanyakan orang, ‘belum siap’. tak menyerah, ajak ia ikut Training keislaman, meski awalnya menolak, akhirnya ia ikut juga karena kita memintanya dengan memelas.
Sesi terakhir training tersebut ialah muhasabah. setiap peserta diingatkan akan dosa-dosa yang telah dilakukan. Memandangnya dari kejauhan, tampak ia menangis termehek-mehek(sorry…pake istilah ini, biar kesannya dramatis gitu). Kita berfikir ia sadar akan dosa-dosanya, dan akan memulai hari baru dengan kebenaran, tentunya islam. Setelah acara selesai, ia memeluk hangat (yang ini buat sesak napasku kambuh, kuat banget seh…), and gak terasa butiran-butiran halus menganak sungai dipipi(ciele…). bahagia, ia mulai menyadari….
Dua minggu tanpa bertemu. Karena liburan semester, ia mudik kekampung halamannya. berkomunikasi hanya melalui telepon atau sms. 3 hari berlalu ia masih membalas sms dan menerima telepon kita. Selanjutnya??? Ia tak lagi menjawab telepon apalagi membalas sms. Dihari ketujuh, nomornya tak aktif lagi.
Sesampainya dari mudik, main ke kost nya. Ingin tahu bagaimana keadaannya. Menanyakan kabar keluarga dan bagaimana liburannya. Alih-alih menyambut keramahan kita, ia justru ketus berkata ‘tak ada oleh-oleh’. What???? Alis mengeriyit, bingung. Karena justru tak terfikir tentang itu. Berusaha bersikap biasa, dan menjelaskan bahwa bukan itu yang diingini, tapi ia justru meminta kita tak mengganggunya. Prasangka baik, mungkin ia masih lelah karena perjalanan jauh.
Hari berikutnya bertemu dia di kampus, dari kejauhan senyum terkembang kita berikan. Wajahnya datar seperti meja pak dosen yang sering kenal pukul itu. hampiri dan berikan buku bagus yang baru kita baca. Tapi ia menolak dengan alasan ‘tak sempat membaca’. Kita ceritakan dengan singkat isi buku itu tapi ia justru memasang handfree ditelinganya. Bête…..kita meninggalkannya. Dua hari kemudian kita menemuinya lagi, tapi ia justru marah dan berkata ‘jangan ganggu aku, aku tak bisa sepertimu’.
Jangan sadarin….mungkin itu kata yang pas. Maksimal sudah berusaha, namanya selalu dibawa dalam doa-doa. Tapi ternyata…..??? untung saja Allah tak pernah melihat hasil, tapi proses, jika saja Allah melihat hasil, mungkin nasibku seperti para korban bunuh diri yang lagi nge-tren itu. Ha…ha..tapi tak lah…semua ini terjadi kan karena sistem. Sistemlah yang membuat masyarakat tak lagi tersuasanakan kebenaran, sistem pula yang menyebabkan tak ada lagi ketenangan, kedamaian, apalagi kesadaran. sistem gila itu bernama Demokrasi, Sekulerisme.
Kau tak bertambah lelah setelah membaca tulisan ini kan?? Kau tak boleh lelah karena Rasullulah udah bersabda :
“andaikan matahari berada ditangan kananku, dan bulan berada ditangan kiriku, aku takkan pernah meninggalkan urusan agama ini sampai aku memenangkannya atau aku mati karenanya”.
So, jika hari ini seruanmu tak didengar, sabarlah kawan…tetaplah istiqamah. kau harus lebih bersemangat. Terus berjuang walau banyak rintangan. Untuk mereka yang tak mau di sadarin, berdoalah semoga Allah tak mengunci mati hati mereka. Keep hamasah!!! Allahu Akbar!!!
Tuk mereka yang merasa romantisnya perjuangan ini. Jika dakwah adalah pohon. Ada saja daun-daun yang berguguran, tapi pohon dakwah takkan pernah kehabisan cara untuk menumbuhkan tunas-tunas barunya, sementara daun-daun yang berguguran tak lebih hanya menjadi sampah dalam sejarah, jangan menyerah karena lelah, biarlah lelah mengejarmu sampai lelah…..
saat langit lebih sering tertutup awan,
Univ.Abdurrab Pekanbaru, akhir desember 2009
Selengkapnya...
Akhwat Belum Tentu Muslimah!
Oleh –chio-Penulis buku seri ‘jangan sadarin’
Uah, jangan buru-buru protes dulu. Simpan bentar protesnya. Baru baca judulnya aja, kan? Apalagi baca isinya ntar, hehe... Jangan tiru orang kebanyakan yang sekadar ngeliat sesuatu dari kulitnya aja. Lihatlah lebih dalam kawan. Seperti milih buahan. Kamu mesti mau kalau dikasi makan durian, padahal kalau cuma dilihat dari luar aja, durian itu nggak ada menarik-menariknya, kecuali buat ngelempar para mafia di Senayan yang lagi tidur biar bangun. Sialnya kalau mereka bangun, mereka cuman pandainya ngasilin UUD dengan kepanjangan Ujung-Ujungnya Duit. Benar-benar nggak menarik, masalahnya yang disedotnya duit kita! Halus banget nyedotnya, pakai peraturan. Tinggal kita yang lemas terengah-engah keabisan darah.
Dulu ketika aku SMA, anak-anak perempuan bakalan risih kalau guru agama mulai nyebut-nyebut soal jilbab, saat itu dibilang jilbab, yang sekarang bagiku bukan jilbab tapi kerudung. Merasa disindir secara telak. Meskipun mereka merasa mempunyai alasan sakti: belum dapat hidayah alias belum dapat petunjuk untuk mengenakannya. Alasan yang nggak logis sebenarnya, karena ketika menjelaskan tentang jilbab yang kerudung itu, guru agama akan mengutip ayat Al-Qur’an. Dan itulah petunjuk nyatanya. Aneh kalau begitu mendengar petunjuk malah bilang belum mendapatkannya! Seperti orang yang dberi makanan tapi masih aja bilang belum dapat makanan.
Untung aja kerudung akhirnya jadi mode yang tren lagi. Katanya mode itu kan seperti siklus. Para pebisnis lihai banget ngeliat peluang ini. Maka nggak peduli tahu apa itu jilbab, bagaimana itu kerudung, ramai-ramai mereka memasok barang ke pasar. Menuhin kebutuhan pasar katanya. Belum lagi mode juga penuh modifikasi. Hasil kreasinya jadi macam-macam, dan banyak nggak mutunya karena nggak dilandasin sama pemahaman mereka tentang apa yang mereka buat. Maka banyaklah para perempuan yang berkerudung bertebaran di jalan. Bagus sih. Tapi mesti beda lah antara seorang yang sekadar mengkonsumsi barang jualan sama yang memang paham apa yang akan dibelinya itu.
Kerudunger. Ini aku peruntukkan buat semua cewek yang sekadar memakai kerudung kecil, mirip lap tangan dan sering kali bahannya rada tembus pandang gitu. Apalagi yang sekedar menggunakannya ketika ada wilayah kampus, ngikutin peraturan kampus ceritanya. Aneh memang, peraturan dari lembaga yang kecil gitu aja diturutin. Eh, giliirannya peraturan dari Sang Pembuat dunia malah nggak dipelajari, nggak dipatuhin. Memang manusia itu makhluk yang aneh.
Kerudunger mengenakan kerudung bukan karena sadar untuk melakukan perintah agama, tapi mengenakan itu sebagai bagian dari sebuah mode pakaian yang lagi ngetren. Kebanyakan dari mereka beragama tanpa tahu apa yang diwariskannaya dari orang tua itu kok. Apalagi kalau dapat orang tua yang juga nggak kenal baik sama warisannya itu, mana bisa menjelaskan ke anaknya. Malah manjaiin dan membuai anaknya ke alam mimpi dengan segala kesenangan berlandaskan uang. Itu untuk yang kaya kasusnya. Kalau miskin, terbentur dengan akses ekonominya. Tersita waktu untuk mempertahankan nafas, dan ini penguasa mesti bertanggung jawab besar. Dan lingkungan sekeliling juga mesti ditanyain. Kerudunger itu seringkali hanya mengikuti apa yang banyak dikenakan oleh orang di seklilingnya. Sekedar alat untuk diterima di suatu lingkungan. Sekedar alat untuk tidak terlihat terlalu berbeda dengan sekitanya. Mengenakan tanpa tahu maksud dan makna dibalik apa yang dikenakannya itu. Dan parahnya lagi kalau abis baca ini masih aja dengan bego’nya nggak mau mencari tahu lebih lanjut lagi kesalahan dia. Keburu mati, tahu rasa! Nyahok!
Kelakuannya masih sebelas dua belas lah sama cewek-cewek biasa kebanyakan. Cewek yang nggak berjilbab, kerudung aja nggak, ya, non?! Tempat main favoritnya etalase raksasa, alias mall. Becandaan sering kelewatan sama lawan jenis. Boncengan naik motor, sama abang kandung sih oke-oke aja, tapi kayaknya nggak mungkin kan meluknya mesra gitu kalau sama saudara kandung?
Apalagi kerudung juga jadi sering kali menjadi topeng para cewek-cewek rendahaan yang berkerudung sekadarnya. Dugem jangan tanya deh. Liat aja ktm yang ada di klub-klub malam. Mesti kamu bakalan aneh banyak yang di kampusnya memakai kerudung, tapi hadir disana dengan seksinya.
Pacaran gaya tingkat tinggi, pulang kemalaman terus dijadikan alasan buat tidur di kostan cowok mah nggak.....nggak jarang maksudnya. Paduan kerudungnya adalah jeans ketat, pakaian lengan panjang tapi ketat. Baju ngepas di badan. Kamu bisa liat aku punya lekuk tubuh, gitu prinsipnya.
Udah lah kita mesti berprasangka baiklah ke dia.
Iya, dia belum tahu agamanya sendiri. ngerti kerudung aja sebagai mode bukan perintah dari yang nyiptain dia. Jangan berharap banyak dia bakalan ngerti gimana seharusnya dia berpakaian. Kalau kamu mau jadiin dia pasangan hidup, selamat, berarti siap-siap susah aja lah. Karena bego’ sama bego’ jadi bego’ kuadrat. Kamu nggak merasa bego’? Trus ngapain milih dia jadi dia penghuni rumah? Hayo...
Meskipun ada juga kerudunger yang baik secara perilaku moralnya. Tapi ya.. itu tadi, nggak bisa jaga diri untuk nggak hanyut. Baik secar moral tanpa ada landsaan yang jelas dan kuat secara pemikiran.
Jilbaber. Kalau di SMA ini seringkali identik dengan anak rohis. Ekstra kurikuler kerohanian Islam. Di kampus juga masih banyak kok. Kerudungnya udah lumayan. Sikap mereka pun biasanya mulai belajar jaga jarak terhadap lawan jenis. Sayangnya meraka masih nggak tertarik buat cari pemahaman yang lebih tinggi, atau belum dapat aja kali ya? Atmosfir sma belum kuat dan mendukung untuk itu sih. Kecuali yang memang niatnya kuat. Jilbaber hampir mirip sama akhwat sih. Udah tahu yang dikenakannya itu perintah dari Sang Penciptanya. Hanya saja belum lengkap, itu aja masalahnya. Kelakuan sih udah agak mendingan lah, meskipun masih agak longgar sama lawan jenis, tapi udah menjaga. Kok jadi muter-muter gini sih. Bingung. Kadang masih berani adu mata kalau bicara. Masih nggak risih becandaan sama lawan jenis. Belum nyadar kalau setiap geriknya menjadi sebuah memori yang sulit terhapus dari memori para laki-laki. Kadang masih senang sms-an nggak terlalu penting. Masih lengah dengan istilah sahabat, terus bisa dekat dan main seenaknya tanpa alasan yang jelas ke rumah atau kost-an. Nggak risih duduk dempetan. Emang sesama jilbaber nggak boleh? Ya sama laki-laki lah! Jangan lugu-lugu bego’ gitu donk. Intinya, kadang masih gampang dipatahkan benteng pertahanannya yang istilah kerennya hijab.
Akhwat. Ini sebutan yang berat dan menjadi benteng tersendiri bagi anak-anak organisasi keIslaman, di kampus terutama. Mereka memakai kerudung yang rada besaran. Tapi ingat kawan, gimana pun besarnya kerudung itu, tetap aja namanya kerudung bukan jilbab. Aktif di organisasi keIslaman salah satu ciri-cirinya. Akhwat, seakan ini istilah tertinggi buat para perempuan yang memeluk Islam sebagai agamanya di negeri ini. Seringkali pakaian mereka juga agak terlalu modis di lingkungan luar menurutku, entah karena itu bahannya bagus, atau emang dianya yang pandai dandan dan padu padan. Jadinya menarik perhatian dengan keindahan gaya berpakaiannya. Nggak sadar kadang. Sayang ya itu bukan untuk suaminya aja. Dengan tampilan visual yang menarik ini mereka bakalan memancing para ikhwan untuk gampang menyukainya, jujur aja, manusia lebih gampang mengingat lewat visualnya kan? Ah...akhwat itu manis benar tampilannya. Serasi antara jilbab (kerudung)nya dengan paduannya. Warnanya enak dipandang. Halah. Untung aja cukup banyak yang mengenakan jaket organisasi, seringkali berwarna hitam, sebagai lapisan terluarnya. Alangkah lebih baiknya mereka seperti ini. Mereka bebas untuk bergaya, tapi nggak mencolok yang terlalu memikat. Karena bukan berarti akhwat itu nggak boleh dandan. Itu mah fitrahnya sebagai perempuan. Bukan berarti mesti berpenampilan kumuh dan nggak rapi jika keluar lingkungan. Hanya saja jika tampilan yang terbaik sudah dia pamerkan di luar, di rumah mau seperti apa lagi? Mending biasa aja di luaran, dirumah baru keren, buat yang udah punya suami nih khususnya. Sederhana ajalah di luaran (luar rumah). Oiya, ciri satu lagi, jarang nggak bawa tas. Maklum, aktivis itu kegiatannya padat.
Secara bahasa akhwat itu artinya saudara perempuan. Jadi siapapun, asalkan perempuan, sebenarnya bisa dikategorikan akhwat secara bahasa, sesuai dengan lingkungannya sendiri. Tapi di Indonesia kata tersebut menjadi keren dan rada berwibawa karena bahasa Arab itu dilekatkan ke perempuan yang pemahaman tentang Islamnya cukup bagus. Mengalami penyempitan makna. Dimulai ketika revolusi pengenaan jilbab (kerudung) oleh para perempuan di saat negeri ini masih dikurung tirani yang melarang pengenaan atribut Perintah Sang Pencipta tersebut di sekolah-sekolah terutama, dan instansi pemerintahan. Keberanian mereka untuk berontak ini lah yang membuat kata-kata itu menjadi terasa berwibawa. Meskipun yang mereka kenakan baru lah kerudung. Semangat keberanian untuk melawan kekuasaan tiran itu lah yang berharga mahal.
Nah, terakhir aku mau nyebutin muslimah itu seperti apa, dalam sedalam pemahaman yang aku pahami dari informasi yang aku terima selama ini. Salah satu cirinya yang paling gampang dikenali itu mereka memakai jilbab. Jilbab disini diartikan pakaian panjang yang terjulur dari leher sampai mata kaki tanpa terputus. Mirip daster gitu lah gampangannya. Aku nggak sembarangan ngartiin nih, emang siapa aku berani ngartiin? Ini menurut orang yang ngerti bahasa dan budaya Arab. Menjaga pandangan, nggak sering berkomunikasi ke lawan jenis kecuali yang penting-penting, urusan organisasi dan ekonomi biasanya. Ingat, bukan menting-mentingin.
Gini, kalau kamu mau tahu bagaimana baju kurung, maka tanyalah pada orang Minang atau Melayu. Mereka pakaian adatnya baju kurung. Meskipun untuk saat ini lebih baik ditanyain langsung ke para orangtua, karena yang mudanya telah terhampar jarak yang lumayan jauh antara diri mereka dengan budayanya sendiri. menurutku pribadi nuansa baju adat kedua suku tersebut dipengaruhi oleh pemahaman mereka akan agama yang dianutnya. Agama merupakan sebuah suntikan yang memberi pengaruh kuat bagi penganutnya untuk mengembangkan kebudayaan dengan mengikuti hukum yang berlaku pada agama. Pertumbuhan yang terpantau dan mempunyai aturan. Nah kalau mau tahu jilbab, tanyakan pada orang Arab, karena merekalah yang pertama dikasi inspirasi oleh Sang Pencipta untuk mengenakannya. Merekalah yang paham bagaimana seluk beluk tentang jillbab. Bukankah kita jika mempelajari sesuatu paling bagus itu sama ahlinya?
Ada dua ayat dari buku panduan kehidupan, Al-Qur’an mengenai jilbab dan kerudung. Sayangnya cuma satu yang sering digunakan yaitu An-Nur ayat 31. Dan yang sering kelupaan untuk dijelaskan, Al-Ahzab ayat 59. Di sana ada perbedaan antara yang diartikan kerudung dengan jilbab. Dari kata yang digunakannya aja udah beda lho. Karena bahsa arab itu bisa menjelaskan secar spsifik apa yang dimaksud dan yang menjadi titik penekanan mana yang epnting. Untuk lebih jelasnya, tanyain ke yang lebih berkompeten lah. Orang berilmu yang nggak mengatakan apa yang disukai pendengarnya aja, tapi apa yang mesti didengar oleh orang yang mencari jawaban tersebut. Orang breilmu yang punya nyali. Punya keberanian yang terasah dengan merasakan gesekan-gesekan dikehidupan nyata.
Sebenarnya nggak ada beda antara mereka semua. Sama-sama manusia. Perempuan. Sama-sama pemeluk agama Islam. Sama-sama masuk dalam do’a setiap pemeluk Islam setelah shalatnya, mungkin. Tidak juga bermaksud mengkotak-kotakkan, meskipun akan terasa seperti itu. Hanya saja dengan keadaan sekarang, di mana semuanya berusaha dikaburkan maknanya, dihilangkan esensinya, maka diperlukan penegasan bahwa sesuatu itu berbeda. Sesuatu itu tidak sama meski serupa. Seperti halnya warna abu-abu. Ketika dimasukkan ke gerombolan warna hitam, dia akan terlihat cerah. Tapi begitu disatu kelompokkan dengan warna putih, kelihatan gelap lah dia. Nah, kamu muslimah bukan? Jangan asal ngaku aja deh. Kalau akhwat aja belum tentu muslimah, apalagi kerudunger! Berproses lah menuju satu titik kematian. Proses yang menjadi nilai bagi kita. Dan titik kematian yang menghentikan itu semua.
Selengkapnya...
Sabtu, 26 Desember 2009
Kaleidoskop Keluarga Muslim 1430 H “Kehidupan Makin Liberal, Masa Depan Makin Suram”
(Gindah Mustanirrah)
Mengakhiri tahun 1430 H, berdekatan dengan akhir tahun 2009 M, menorehkan luka dan duka yang semakin mendalam dalam benak seluruh kaum muslimin. Cengkeraman kehidupan kapitalis liberal telah membenamkan umat ini dalam lautan masalah. Kehidupan keluarga muslim semakin terkepung gelombang mematikan, baik secara ekonomi, politik, hukum, sosial dan seluruh aspek kehidupan. Musuh-musuh Islam, dengan ideologi kapitalis-liberal berusaha dengan sungguh-sungguh menghancurkan kekuatan umat hingga tak tersisa.
Keluarga yang selayaknya menjadi benteng terakhir pertahanan umat dan negara, semakin mendapat serangan gelombang kerusakan yang bertubi-tubi. Keluarga yang seharusnya menjadi pabrik yang melahirkan generasi pemimpin masa depan, belum lagi bertaji. Jangankan mengangkat wajah untuk tampil sebagai pemimpin peradaban terbesar yang pernah ada dalam sejarah, perubahan yang diharapkan mampu mengeluarkan umat ini dari derita berkepanjangan pun, belum menampakkan hasil.
Hari ini potret kehidupan yang kelam masih membayang. Dunia Islam, termasuk Indonesia masih menampilkan bayang-bayang kehidupan yang suram. Tulisan ini sekilas merefleksikan kilas balik kehidupan di tahun 1430 H/2009 M. Tentu dengan harapan, bahwa harus ada jalan keluar menuju kebangkitan yang membentang di hadapan.
Potret Kelam Muslimah dan Keluarga Muslim Indonesia
Awal tahun 2009, krisis global yang terjadi sejak 2007 belum juga beranjak. Kondisi ini jelas berimbas pada kehidupan keluarga muslim yang semakin sulit dari sisi perekonomian. Keluarga muslim harus menanggung beban berat, imbas dari merajalelanya riba sebagai penyokong utama sistem keuangan kapitalisme global. Pengangguran tinggi menyebabkan terabaikannya kewajiban nafkah oleh suami terhadap istri dan anak-anak. Hal ini pula yang mendorong kaum perempuan terpaksa ikut mencari nafkah, meninggalkan rumah, mengabaikan harkat martabat kemuslimahannya dan peran utama sebagai “pendidik pertama dan utama serta posisi manajer rumahtangga” (ummun wa robbatul bait). Akibatnya muslimah mulai terperangkap dalam dunia liberalisasi yang menghantarkan kekelaman dan kesuraman bagi kehidupan berkeluarga-bermasyarakat dan bernegara.
Sepanjang tahun 2009 atau 1430 H ini, terdapat ragam peristiwa, kejadian dan propaganda opini yang mengarah pada proses liberalisasi, terutama liberalisasi keluarga. Diantaranya:
1. Liberalisasi Menyusup Pesantren
Liberalisasi menyusup dunia pesantren. Ditandai dengan merebaknya pro-kontra film Perempuan Berkalung Sorban besutan sutradara Hanung Bramantyo. Film yang dirilis Januari 2009 dan didanai oleh The Ford Foundation ini berlatar belakang kehidupan pesantren yang dikesankan mengungkung hak-hak asasi perempuan. Film inipun berupaya mendobrak tatanan Islam mengenai posisi perempuan dan relasi antara suami-istri. Film ini hanyalah salah satu alat untuk memasarkan konsep persamaan hak antara laki-laki dan perempuan yang terus digencarkan kaum liberal. Nilai-nilai kebebasan hendak dicekokkan ke benak kaum perempuan, utamanya muslimah yang biasa hidup taat dengan syariat di pesantren-pesantren. Kurikulum pesantren yang dinilai kolot dibidik agar mengadopsi nilai-nilai liberal.
2. Kejar Paket UU Liberal
Bulan ini Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang sebentar lagi habis masa jabatannya seperti kejar tayang dengan menggenjot penyelesaian berbagai regulasi. Beberapa UU liberal segera disahkan. Seperti UU Pemilu yang disahkan 26 Februari. Segera menyusul untuk disahkan UU Kepemudaan, dll.
Wacana amandemen UU menuju liberalisasi juga deras mengalir. Salah satu UU yang dibidik kaum liberal adalah UU Perkawinan. Untuk itu, pada 3-4 Februari 2009 Komnas Perempuan menggelar Dialog Nasional dengan tema ”Mencapai Kebijakan Hukum Keluarga yang Adil dan Setara Gender”. Tujuan Dialog Nasional untuk mencapai berbagai macam produk hukum dan terobosan melalui peradilan hukum, sehingga prinsip keadilan yang menjadi tujuan dari Islam (versi liberal) sendiri bisa terwujud.
Sementara itu, Skala Internasioal pada 12-17 Februari di The Ultra Modern Prince Hotel, Kuala Lumpur Malaysia menggelar Musawah dengan tema Gerakan global menuntut kesaksamaan dan keadilan dalam keluarga Islam. Musawah dihadiri lebih dari 250 ulama dan pemikir Muslim dari 48 negara (32 orang anggota dari Organisasi Konferensi Islam OIC). Peserta berasal dari berbagai kalangan termasuk akademisi, aktivis, pembuat kebijakan dan praktisi. Salah satu anggota komite perencanaan Musawah dari Indonesia adalah Kamala Chandrakirana dari Komnas Perempuan. Mereka menuntut keadilan dan kesetaraan dalam keluarga muslim, melalui hukum dan kebijakan publik. Fokus yang dituntut dalam musawah adalah “Pembaruan Hukum Islam dalam Keluarga Muslim”, terkait: Umur perkawinan, Izin perkawinan, Wali perkawinan, Saksi untuk perkawinan, poligami, nusyuz, perceraian, dan kawin mut'ah.”
Apa yang dirumuskan dalam Musawah setali tiga uang dengan rumusan dalam Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (CLD-KHI) yang sebelumnya diajukan untuk mengganti UU Perkawinan Nomor 1 tahun 1974. Seperti diketahui, isi CLD-KHI yang digagalkan MUI pada 2004 itu sangat merusak tatanan syariat Islam. Seperti Perkawinan bukan ibadah, tetapi akad sosial kemanusiaan (muamalah); pencatatan perkawinan oleh pemerintah adalah rukun perkawinan; perempuan bisa menikahkan dirinya sendiri dan menjadi wali pernikahan; mahar bisa diberikan oleh calon suami dan calon istri; poligami dilarang; pernikahan dengan penbatasan waktu boleh dilakukan; perkawinan antaragama dibolehkan; istri punya hak talak dan rujuk; hak dan kewajiban suami istri setara.
3. Jebakan Demokrasi dalam Quota 30%
Hiruk pikuk menjelang pemilihan anggota legislatif 9 April 2009 turut menyeret sederetan kaum perempuan di dalamnya. Mereka ‘dipaksa’ ikut andil dalam proses demokratisasi guna memenuhi kuota 30 persen perempuan dalam parlemen. Parpol-parpol pun bergerilya mencari perempuan yang bersedia menjadi anggota dewan. Dan karena sistem pemilihannya langsung, akhirnya sosok perempuan ngetoplah yang diuntungkan. Benar saja, kini anggota dewan perempuan didominasi kalangan artis dan public figur. Tentu saja peran mereka sangat diragukan dalam membela kepentingan kaum muslimah dan masyarakat pada umumnya menuju tatanan kehidupan yang Islami. Bahkan, bisa jadi penghalang tegaknya kehidupan Islami karena mereka turut serta memperlancar menggelindingnya roda-roda liberalisasi melalui berbagai regulasi berbau gender. Maka upaya liberalisasi keluarga muslim pun semakin menguat.
4. Kapitalisasi Dunia Kesehatan
Kapitalisasi virus yang dilakukan oleh perusahaan vaksin dunia yang menggunakan WHO sebagai payung tampak begitu nyata pasca merebak epidemi flu babi, menyusul kasus-kasus flu burung sebelumnya. Departemen Kesehatan pun menggencarkan opini pentingnya vaksinasi demi pencegahan berbagai penyakit. Padahal faktanya, vaksinasi hanyalah bagian dari upaya melemahkan keluarga dan generasi. Lebih dari itu, terjadi kapitalisasi di dunia kesehatan. Layanan kesehatan begitu mahal, sementara hak-hak masyarakat sebagai pasien kerap terabaikan.
Kapitalisasi dalam dunia kesehatan pun dirasakan oleh seorang Prita Mulyasari. Ia dipisahkan dari dua anak balitanya guna menjalani hukuman penjara di LP Wanita Tangerang pada 13 Mei 2009 di LP Wanita Tangerang Banten. Prita dituduh mencemarkan nama baik RS Omni International Tangerang, tempat dimana ia sebelumnya dirawat. Praktis kebebasannya terenggut, termasuk tak bisa menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga selama tiga pekan. Kisah Prita berawal dari email yang dikirim kepada teman-temannya seputar keluhannya terhadap RS tersebut, yang kemudian menyebar ke publik lewat milis. Prita merasa dibohongi dengan diagnosa deman berdarah saat dirawat di RS Omni pada pertengahan Agustus 2008. Belakangan dokter di RS tersebut mengatakan dia hanya terkena virus udara. Tak hanya itu, dokter memberikan berbagai macam suntikan dengan dosis tinggi, sehingga Prita mengalami sesak nafas. Saat hendak pindah ke RS lainnya, Prita mengajukan komplain karena kesulitan mendapatkan hasil lab medis. Namun, keluhannya kepada RS Omni itu tidak pernah ditanggapi, sehingga dia mengungkapkan kronologi peristiwa yang menimpanya kepada teman-temannya melalui email dan berharap agar hanya dia saja yang mengalami hal serupa.
5. Nasib Tragis Pekerja Perempuan
Siti Hajar, seorang TKI asal Ngawi, Jawa Timur, Nurul Widayanti belum lama ini dilaporkan tewas bunuh diri di tempatnya bekerja di Selangor, Malaysia. Pihak keluarga tak yakin Nurul bunuh diri, melainkan dianiaya majikannya (www.liputan.com/14/6/09). Nasib Siti Hajar melengkapi derita kaum perempuan di negeri ini yang terpaksa mengais rezeki di negeri seberang akibat sulitnya kehidupan di negeri para bedebah ini.
6. Potret Buram Dunia Pendidikan
Dunia pendidikan semakin menunjukkan potret buramnya. Kasus tawuran antar pelajar, Gang Nero yang membuat para gadis muda laksana preman, depresi pelajar menjelang dan sesudah Ujian Akhir Nasional, para pendidik yang kehilangan kredibilitas dengan manipulasi nilai ujian akhir, adalah sekelumit fakta persoalan pendidikan di negeri ini. Masalah asas pendidikan, metode pengajaran, kurikulum, pembiayaan pendidikan, target pendidikan dan lain-lain adalah problem terpendam dari gunung es persoalan dunia pendidikan.
7. Eksploitasi Perempuan dalam Ajang Miss Universe
Tanggal 13 Agustus digelar Miss Universe 2009. Wakil Indonesia Zivanna Letisha Siregar rela berbikini ria demi merebut mahkota ratu sejagad. Sayang, usahanya sia-sia. Masuk 15 besar pun tidak. Namun ia mengaku bangga bisa ikut serta di ajang maksiat itu, meski dilakukan tepat di bulan puasa. Begitulah, eksploitasi perempuan berkedok promosi pariwisata melalui ajang kontes kecantikan masih juga dinomorsatukan. Seolah tanpa menjual perempuan pariwisata negeri ini tidak akan laku.
8. Bencana dan Masih Saja Ada Upaya Kapitalisasi
Tanggal 30 September 2009, pukul 17.16 WIB terjadi Gempa Bumi berkekuatan 7,9 SR di Kabupaten Pariaman, Provinsi Sumatera Barat. Menurut catatan resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) korban meninggal akibat gempa bumi mencapai 1.117 jiwa dan lebih dari 1.200 orang luka berat dan hampir 250 ribu kepala keluarga kehilangan tempat tinggal.
Korban jiwa banyak dialami anak-anak, baik yang berada di tempat-tempat belajar maupun di rumah mereka. Sebagian besar anak-anak pun kehilangan keluarga. Ini berdampak trauma psikologis bagi mereka. Selanjutnya, ratusan anak-anak dieksploitasi secara ekonomi yakni menjadi suruhan orang-orang dewasa untuk menjadi pengemis di pinggir jalan, mengharap iba para pengguna jalan tanpa mempedulikan risiko yang dihadapi anak.
Kesehatan dan gizi anak juga terancam karena lambannya bantuan dari pemerintah serta minimnya lembaga yang mampu mengakses desa-desa yang terisolir akibat longsornya sebagian jalan utama, seperti di wilayah Padang Pariaman, Agam dan Pasaman Barat.
Di sisi lain, bencana itu dimanfatkan musuh-musuh Islam untuk mengkufurkan kaum muslimin yang sedang menderita. Seperti upaya pemurtadan di daerah Korong Koto Tinggi, Kenagarian Gunung Padang Alai, Kecamatan Koto Timur, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Upaya ini dilakukan LSM Samaritan yang mendapat bantuan dari luar negeri (AS-red). Modus pemurtadan dengan mengajarkan anak-anak setempat pengenalan pada tuhan agama tertentu (www.muslimdaily.net). Hasil pantauan HTI press, dari sebanyak 187 organisasi relawan yang terdaftar di Satkorlap rumah gubernur Sumatera Barat, terdapat organisasi keagamaan missionaris antara lain Church World Service, Catholic Relief Services, Ya-PeKA HKBP, dan yang lainnya.(www.hizbut-tahrir.or.id /12 okt2009).
Pemurtadan juga terjadi di Kecamatan Limo Koto Timur, Padang Pariaman. Dua warga asal Amerika Serikat, Steve dan Rudi Gonzales, diketahui telah membagikan kitab suci agama tertentu kepada korban gempa. Aksi mereka terekam kamera telepon seluler saat memberikan khotbah di kerumunan warga. Dalam rekaman berdurasi 48 detik tersebut, mereka terlihat mengajak warga untuk berpindah dari agama Islam yang selama ini diyakini warga. Aksi ini ditentang warga sehingga mereka diusir dari daerah tersebut. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar kemudian menyita 24 kitab suci serta buku-buku petunjuk dan komik-komik yang dianggap menyesatkan masyarakat.
9. Ikon Kebebasan Putri Indonesia dan Artis Porno Miyabi
Kontroversi menyeruak menyusul terpilihnya Qory Sandioriva (18) sebagai Putri Indonesia 2009 pada 9 Oktober 2009. Maklum, wakil dari Nanggroe Aceh Darussalam ini terpilih karena keberaniannya menanggalkan busana muslimah. Padahal sejak pertama kali diadakan pada tahun 2003, peserta dari NAD selalu mengenakan pakaian tertutup di ajang ini (dan selalu kalah).
”Buat saya, rambut adalah mahkota keindahan wanita dan saya bangga dengan memperlihatkan keindahan tersebut. Tidak apa-apa kalau saya ingin memperlihatkannya. Saya melepas jilbab atas izin dari Pemda Aceh. Semoga keputusan saya bisa diterima," begitu ujarnya di tabloid Wanita Indonesia Edisi 19-25 Oktober 2009.
Sementara itu, 14 Oktober Maria Ozawa alias Miyabi direncanakan datang ke Indonesia (meski akhirnya batal). Artis porno asal Jepang itu sedianya akan diboyong ke tanah air untuk syuting film “Menculik Miyabi” yang diproduksi Maxima Picture. Beruntung rencana busuk itu diekspos media hingga terjadilah resistensi masyarakat. Sejatinya, sosok seperti Qory maupun Miyabi adalah ikon bagi kebebasan perempuan. Kemenangan Qory dikhawatirkan mempengaruhi citra perempuan Aceh pada khususnya dan muslimah pada umumnya yang identik dengan pakaian menutup aurat.
Di sisi lain, kaum liberal ingin mengokohkan sosok perempuan bebas seperti Miyabi sebagai ikon perempuan ideal. Padahal dialah perempuan cabul nan bejat, yang sejak usia 13 tahun sudah melakukan seks bebas dengan pacar-pacarnya. Ia bahkan tak diakui orangtuanya dan dijauhi teman-temannya karena menjadi penikmat dan pelaku industri porno.
10. Liberal Menjegal Formalisasi Syariat
Kaum liberal pun semakin getol menolak formalisasi syariat Islam di Indonesia. Untuk itu pada 16-17 Oktober 2009, Komnas Perempuan bekerjasama dengan beberapa lembaga seperti the Institute of Women’s Empowerment (Hongkong), Sister in Islam (Malaysia), ‘Aalimat (Indonesia), dan Maruah (Singapore) menyelenggarakan workshop regional dengan tema “State Adoption and Non-State Promotion of Sharia Law in Southeast Asia: Impacts on Women’s Rights.” Kegiatan ini berlangsung di Hotel Bidakara Jakarta Selatan.
Mereka beranggapan bahwa fenomena formalisasi syariat Islam tersebut memberikan banyak pengaruh dan akibat negatif bagi upaya pemenuhan hak-hak perempuan. Seperti qanun jinayat, dinilai semakin mempertegas dominasi kelompok-kelompok keagamaan yang tidak sensitif terhadap hak-hak perempuan (www.jurnalperempuan.com/ 21okt2009)
Begitulah yang dikehendaki kaum liberal, yakni membebaskan perempuan dari syariat Islam yang dinilai membelenggu. Kaum liberal ini pun semakin berani menantang Allah SWT. Seperti yang dilakukan pada pezina seks komersial (PSK). Sedikitnya 36 pekerja seks komersial (PSK) perwakilan dari 19 kota/kabupaten se-Jawa Barat (Jabar), menyelenggarakan Musyawarah Besar Wanita Pekerja Seks Komersial di Kabupaten Karawang.
Para PSK tersebut bersepakat akan membahas masalah penanggulangan HIV/AIDS di Jawa barat selama dua hari, 2-3 Oktober 2009. Mereka mengharapkan pemerintah menjamin kemudahan layanan kesehatan untuk mereka dan mendorong presiden terpilih Susilo bambang Yudhoyono segera merealisasikan janji kampanyenya tentang percepatan ketersediaan layanan HIV/AIDS. Mereka menuntut pemerintah pusat dan pemerintah daerah mengalokasikan dana yang cukup besar dalam APBD untuk itu.(bbkbn.go.id/8/10/09)
Tuntutan itu seiring dengan makin maraknya industri seks tumbuh di negeri ini. Sebuah upaya untuk merusak akhlak dan moral generasi muda muslim agar semakin jauh dari tatanan Islam.
11. Nasib Tragis Hukum Bagi si Lemah
Nenek Minah (55) divonis 1 bulan 15 hari oleh Pengadilan Negeri Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (19/11), atas tuduhan mencuri tiga butir buah kakao seberat tiga kilogram milik PT Rumpun Sari Antan (RSA) 4. Tanpa didampingi pengacara, warga Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang ini berusaha tetap tegar saat menyampaikan pembelaan atas dakwaan tersebut. Dia merasa tidak bersalah karena niatnya mengambil tiga biji kako senilai tak lebih Rp2.000 itu untuk bibit, sementara ketiga kepergok toh kako itu tak jadi dikuasainya.
Di tempat terpisah, dua warga Bujel, Kediri, Jawa Timur, Basar dan Kholik harus berurusan dengan Kepolisian Sektor Mojoroto gara-gara masalah sepele, mencuri satu biji semangka. Kejadian itu berawal saat Basar dan Kholik beristirahat setelah bekerja. Lantaran haus, timbul keinginan untuk mencari minum. Namun tiba-tiba ia melihat semangka yang belum dipanen. Maka diambillah buah itu. Belum sempat menikmati, kedua pria yang menjadi tulang punggung keluarga ini tertangkap Sudarwati, pemilik kebun semangka. Kebetulan pemiliknya adalah anggota polisi sehingga memudahkan proses hukum kedua pelaku. Upaya penyelesaian secara kekeluargaan mentah karena pelapor tidak memberi maaf.
Begitulah sistem hukum di negeri ini. Untuk mengadili rakyat jelata yang sejatinya tidak layak dikriminalkan itu begitu mudah dan cepat. Namun untuk menghukum penjahat kelas kakap, seperti koruptor berdasi hokum menjadi tumpul.
12. Ironisme dalam Penanggulangan HIV-AIDS
Peringatan Hari Aids 1 Desember kembali menjadi momen untuk mempropagandakan hidup bebas. Betapa tidak, paradigma yang ditawarkan untuk mencegah penularan HIV/Aids masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni antara lain kondomisasi. Akar masalah seperti menutup prostitusi sama sekali tidak direkomendasikan.
Potret Kelam Dunia
Gelombang liberalisasi yang mengantarkan muslimah dan keluarga muslim pada kenestapaan tak hanya melanda negeri ini, namun juga di berbagai belahan dunia. Secara global, keluarga muslim terus menerus dihadapkan pada serangan liberalisasi. Beberapa yang menonjol antara lain:
1. Krisis Gaza dan Upaya Liberalisasi Generasi
Tahun 2009 kaum muslimin di Indonesia dan dunia mengalami rasa sakit yang sangat dengan adanya agresi militer Israel ke Palestina. Agresi biadab sejak 27 Desember 2008 sampai November itu 2009 telah menelan 1.500 korban syahid, kebanyakan perempuan dan anak-anak. Sebanyak 22 rumah hancur dan 95 ribu warga terlunta-lunta, kebanyakan juga perempuan dan anak-anak .
Israel memang tidak pernah puas bila generasi Islam masih terus tumbuh dan berkembang. Bagi yang masih hidup pun, Israel terus berupaya untuk menghancurkannya, diantaranya dengan menggunakan narkoba sebagai penghancur pemuda Palestina. Organisasi Internasional Al-Quds dalam laporannya menyatakan, Zionis Israel memerangi para pemuda Palestina dengan narkotika dan berupaya merusak kekompakan dan persatuan diantara mereka [www.hidayatullah.com] .
Selain itu, Israel juga menyerang pemikiran anak-anak melalui dunia maya. Sebelum ini, koran Israel Yediot Aharonot melaporkan, Israel telah menyediakan situs-situs porno berbahasa Arab untuk merusak anak-anak Mesir, Saudi, Tunis, Yordania, dan Palestina (www.hidayatullah.com).
Israel menggunakan kemajuan teknologi informasi melalui facebook sebagai alat memata-matai dunia. Menurut Indonésie Magazine yang berbasis di Prancis, intelijen Israel fokus pada pengguna Facebook, terutama kepada Arab dan Muslim. Israel menggunakan informasi yang diperoleh melalui halaman Facebook mereka itu untuk menganalisis aktivitas mereka dan memahami bagaimana mereka berpikir. Facebook merupakan aktivitas rahasia Israel yang ditemukan pada Mei 2001. Ini bukan pertama kalinya Israel dituduh menggunakan Facebook untuk memata-matai orang. Pada April 2008 surat kabar Yordania Al-Haqiqah al-Dawliya menerbitkan sebuah artikel berjudul "The Hidden Enemy" membuat klaim yang sama (www.eramuslim.com)
Kebrutalan dan kebencian Israel terhadap perkembangan generasi Islam benar-benar nyata, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an,
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (TQS Al Baqarah: 120)
2. Kekerasan Terhadap Muslimah
Barat memiliki kebencian yang sangat kepada Islam termasuk simbol-simbol yang digunakan oleh kaum muslimin sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Kebencian barat seringkali menghantarkan mereka melakukan kekerasan bahkan menghantarkan kepada kematian. Padahal kaum muslimin tidak melakukan penghinaan kepada mereka, tetapi Barat merasa terhina dengan simbol-simbol ketaatan muslim kepada Allah SWT. Seperti apa yang dialami oleh seorang muslimah mesir yang bertempat tinggal di Jerman, Marwa Sherbini (31). Ia dibunuh di pengadilan Jerman oleh orang yang dinyatakan bersalah menghina agamanya dengan tikaman 18 kali. Suami korban, Elwi Okaz juga dalam kondisis kritis di rumah sakit akibat terluka saat mencoba menyelamatkan istrinya. Sherbini menggugat si pembunuh setelah dia menyebut Sherbini “teroris” karena mengenakan jilbab. Jaksa penuntut menyatakan, penyerang berusia 28 tahun, yang diidentifikasi sebagai Axel W, terdorong oleh kebencian mendalam terhadap warga asing dan Muslim.[bbc].
Amal Abusumayah, muslimah 28 tahun yang tinggal di Tinley Park, Illinois, AS ditarik jilbabnya secara sengaja oleh Valerie Kenney, warga setempat. Akibat perbuatannya itu, kini pelaku harus bersiap menjalani proses pengadilan pada 3 Desember mendatang, tuduhannya telah melakukan kekerasan karena kebencian. Dia terancam hukuman tiga tahun penjara serta denda 25 ribu dolar. Kejadiannya sendiri berlangsung tiga hari setelah peristiwa penembakan di Fort Hood, Texas, yang menewaskan 13 tentara Amerika pada Kamis (5/11) lalu. Saat itu, keduanya sedang berbelanja di pasar swalayan. Tiba-tiba, Kenney mendekati Amal dan langsung memakinya. “Pelaku penembakan di Texas bukan orang Amerika, tapi berasal dari Timur Tengah,” teriak Kenney, merujuk pada Mayor Nidal Malik Hasan, si pelaku penembakan. Amal mengacuhkan penghinaan itu. Namun, hal itu justru kian memancing emosi Kenney, yang langsung menarik jilbabnya secara kasar. Tak terima diperlakukan semena-mena, Amal melapor ke polisi, dan Kenney pun diamankan. Kasus tersebut segera menjadi perbincangan hangat di AS. (www.republika.co.id/).
Larangan jilbab juga terus terjadi. Beberapa negara bagian di Jerman telah melarang jilbab untuk guru (www.hidayatullah.com). Presiden Prancis, Nikolas Sarkozy, dalam pidato yang disampaikan pada Senin (22 Juni 2009) di Parlemen Nasional Prancis mengecam penggunaan hijab. Dia mengatakan bahwa burqa atau cadar menjadi simbol perbudakan wanita. Di AS telah ada draft undang-undang yang diajukan dewan legislatif negara Oregon, yang bakal melarang para guru di sekolah publik mengenakan “busana” yang menunjukkan identitas agamanya, termasuk jilbab. Draft undang-undang itu juga menyebutkan, pejabat sekolah yang melarang seorang guru mengenakan busana yang menunjukkan identitas agamanya saat mengajar, tidak akan dituntut secara hukum. (www.eramuslim.com).
Juga, larangan naik bus oleh seorang supir terhadap seorang muslimah di Australia telah memicu pertengkaran karena wanita itu mengenakan jilbab. Ibu dua anak tersebut mengatakan sopir itu tak mengizinkannya naik bus (www.antaranews.com). “Waktu saya naik, sopir itu berkata “Kamu tak boleh naik karena pakai topeng,” ujar wanita itu kepada harian Daily Telegraph edisi Jumat seperti dilaporkan AFP. Ketika menjelaskan bahwa yang dikenakannya adalah pakaian sesuai perintah agama, pengemudi tersebut menanggapinya: “Maaf, ini undang-undang.”
3.Liberalisasi Hukum Keluarga dan Penghapusan Hukum Islam
Rezim Barat secara beruntun mengecam proposal RUU (Rancangan UU yang sedang dibahas oleh parlemen Afghanistan mengenai hak wanita dalam perkawinan. Presiden Amerika Barack Obama hari Sabtu termasuk di antara para pemimpin dunia yang mengecam tajam undang-undang itu, yang bertujuan mengatur kehidupan berkeluarga masyarakat Syiah Afghanistan.Obama mengatakan, undang-undang itu memuakkan dan pandangan itu telah disampaikan kepada pemerintahan Karzai.(voa.com/5/4/09)
Gordon Brown berkata,” RUU ini akan membawa Afghanistan ke masa lalunya ketimbang menyongsong era demokratis yang menyamakan perlakuan terhadap pria dan wanita.” Penggunaan istilah-istilah seperti ‘pembolehan pemerkosaan dalam pernikahan’, ‘perbudakan seksual’ dan ‘pemenjaraan wanita’ mulai ditebar yang turut memanaskan histeria seputar RUU ini.(www.hizbut-tahrir.or.id)
Gereja Lutheran Swedia memperbolehkan melakukan perkawinan sejenis mulai November 2009. Sekitar 70 persen dewan gereja menjadikannya salah satu dari beberapa gereja-gereja global untuk membolehkan pernikahan gay. Pemerintah Swedia memperkenalkan hukum baru yang memungkinkan pasangan gay memiliki hak perkawinan yang sama seperti heteroseksual. Gereja Lutheran mengatakan pasangan gay sekarang bisa menikah dengan salah satu dari para imam awal November. Komunitas Gay Swedia, Swedia Federation for Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender Rights (RFSL), menyambut baik keputusan pemerintah melegalkan pernikahan gay di gereja. “Kita mengucapkan selamat kepada Gereja Swedia untuk mengambil keputusan itu. Homoseksual dan biseksual akhirnya akan dapat merasakan sedikit lebih diterima dalam masyarakat,” kata salah seorang komunitas itu dalam sebuah pernyataan. Swedia adalah salah satu negara pertama yang memberikan hak secara hukum pasangan gay pada pertengahan 1990-an, dan membolehkan pasangan gay mengadopsi anak dari tahun 2002. Swedia menjadi lima negara Eropa, setelah Belanda, Belgia, Spanyol dan Norwegia, yang mengakui perkawinan sesama jenis. (Republika online, 23/10/2009)
Bukti Kebobrokan Kapitalisme-Liberalisme
Seluruh rekam fakta di atas terjadi karena keluarga muslim Indonesia dan dunia hidup di dalam peradaban kapitalisme yang berlandaskan aqidah sekulerisme (memisahkan agama dalam kehidupan). Keluarga muslim didorong dan dipaksa untuk melepaskan diri dari keterikatannya pada aturan kehidupan yang bersumber dari Allah SWT. Para pegiat aqidah sekuler ini melakukan infiltrasi (penyusupan) pemikiran-pemikiran yang dapat merusak benak kaum muslimin maupun muslimah. Infiltrasi pemikiran yang di sebarkan ini dilakukan dalam rangka mencapai tujuan:
1. Meragukan keyakinan umat Islam terhadap aqidah Islam dengan menanamkan kebenaran yang bersifat relatif
2. Mempromosikan sisi buruk penerapan hukum syara’ akibat kelemahan individu
3. Mengumbar janji manis kebohongan pemikiran-pemikiran HAM dan Demokrasi
Infiltrasi sekulerisme telah membuat kaum muslimin mencukupkan Islam hanya pada aspek yang berkaitan dengan individu seperti ibadah mahdah semata. Islam “dianggap” tidak berhubungan dengan kehidupan sosial-kemasyarakatan dalam tatanan kenegaraan. Untuk menancapkan keyakinan ini peradaban kapitalisme memunculkan fakta-fakta penerapan hukum syara’, semisal hukum jinayat (hukum potong tangan bagi pencuri,rajam dan jilid bagi pezina) di vonis sebagai biang KEKERASAN. Bahkan mereka menggambarkan muslimah yang menjalankan syari’ah dengan menutup aurat (cadar, kerudung dan jilbab) dinyatakan sebagai teroris. Hal ini menyebabkan kaum muslimin dengan sendirinya menolak ajaran Islam.
Muslimah dan Keluarga muslim diiming-imingi solusi berupa HAM (kebebasan individu) dan Demokrasi (Pemerintah berasal dari-oleh-untuk Rakyat). Padahal hakekatnya, semua itu merupakan KEBOHONGAN dan KEJAHATAN yang besar. Kenapa??? Fakta membuktikan bahwa HAM memiliki pisau bermata dua, di satu sisi pisau ini untuk mendiskriminasi dan mengeliminasi kaum muslimin dan di sisi lain untuk melindungi kebebasan dan kejahatan peradaban kapitalisme yang diusung barat. Mereka menghilangkan hak individu-individu muslim untuk menjalankan keyakinannya dan menjalankan syari’ah sebagai bentuk ketaatan, di sisi lain mereka memfasilitasi kebebasan kaum lesbian, gays, dan perusak moral menampakkan identitas diri di tengah-tengah masyarakat bahkan memberikan penghargaan atas keberadaan mereka.
Peradaban kapitalisme mengatakan jihad merupakan bentuk kekerasan dan dikaitkan dengan terorisme, tetapi apa yang dilakukan oleh AS, Israel, Inggris, dan Australia sebagai gembong pengusung HAM melakukan pembunuhan terhadap anak-anak, perempuan dan rakyat Palestina, Afghanistan dan negeri-negeri muslim lainnya dianggap sebagai upaya perdamaian. Sesungguhnya peradaban kapitalismelah yang melakukan kekerasan dan menjadi dalang teroris di muka bumi ini dan tidak layak untuk mendapatkan pujian dan dijadikan sebagai teladan. Semua ini jelas-jelas sangat memuakkan, sehingga tidak layak untuk di konsumsi oleh kaum muslimin di negeri ini dan di dunia.
Muslimah, anak-anak dan keluarga muslim telah merasakan dampak negatif akibat sekularisme yang notabene lahir dari kelemahan manusia. Sistem sekuler saat ini diterapkan di Indonesia dan di negeri-negeri Muslim lainnya, adalah sistem yang rusak dan bertentangan dengan akidah Islam. Sistem ini telah nyata-nyata menjauhkan umat Islam dari harta miliknya yang paling berharga, yaitu kecintaan kepada agama Allah SWT. Akibatnya, kehidupan semakin suram di segala bidang; baik ekonomi, pendidikan, kesehatan, hukum, dll.
Peradaban kapitalismen selain meniadakan hak Allah SWT untuk mengatur manusia dalam seluruh aspek kehidupan, ternyata secara hakekat telah mempurukkan kaum perempuan,anak-anak, dan umat muslim dan manusia di seluruh dunia. Keterpurukkan ini menghantarkan muslimah dan keluarga muslim ke jurang penderitaan melalui kebijakan yang lahir dari sistem pemerintahan demokrasi. Demokrasi yang dipropagandakan membela rakyat dan berpihak kepada rakyat semata, ternyata suatu KEBOHONGAN yang SANGAT BESAR. Kebijakan yang lahir dari demokrasi hakekatnya hanya berpihak kepada orang-orang yang memiliki modal(capital) dan yang haus kekuasaan untuk memonopoli kekayaan. Hukum dan peradilan dapat dibeli oleh para capital dan penguasa atas nama KEADILAN dan HAM, sedangkan orang-orang yang tak berdaya di anggap layak untuk mendapatkan sanksi hukuman yang berat yang tidak adil dan tidak manusiawi.
Penerapan kebijakan ala kapitalisme itu hanya menimbulkan tingginya angka kemiskinan, pengangguran, anak putus sekolah, harga barang kebutuhan pokok, dll. Bukan itu saja, kebutuhan pokok masyarakat juga semakin sulit dijangkau masyarakat. BBM langka dan mahal, air mahal, apalagi susu. Sarana dan prasarana semakin sulit diakses, seperti jalan tol yang mahal, kesehatan dan pendidikan meroket, dan seterusnya. Bahkan, makanan seperti tahu atau tempe yang merupakan warisan leluhur nenek moyang kitapun, kini menjadi hidangan langka yang tak terjangkau harganya. Pemenuhan kebutuhan pokok yang bersifat individu (pangan,papan,pakaian) menjadi barang yang sulit dan mahal bagi orang miskin yang hidup dalam peradaban kapitalisme. Sedangkan pemenuhan kebutuhan pokok yang bersifat komunitas berupa pendidikan,kesehatan dan keamanan menjadi barang mewah dalam peradaban kapitalisme. Hanya orang-orang kaya saja yang layak untuk hidup dan menikmati hidup, sedangkan orang-orang miskin mereka adalah orang yang terpinggirkan dan dianggap layak tertindas dalam hutan rimba peradaban Kapitalisme.
Sungguh malang penduduk negeri ini, ibarat tikus mati di lumbung padi. Di negeri yang kaya sumber daya alam, rempah-rempah melimpah dan subur tanahnya, rakyatnya jatuh miskin, kelaparan dan tak putus dirundung bencana alam. Kaum muslimin yang berjumlah 5 milyar di dunia ini tidak memiliki kekuatan dan kewibawaan bahkan diinjak-injak, di hina dan direndahkan harkat - martabatnya sebagai manusia. Kapankah semua ini berakhir? Tidak cukupkah bukti kebobrokan sistem kapitalisme itu menyadarkan umat Islam untuk kembali kepada aturan Allah SWT, Zat yang Maha Tahu hakikat manusia dan kehidupan?
Seruan Muslimah Indonesia untuk Dunia
Sesungguhnya, muslimah dan keluarga muslim mengalami potret buram yang tak berkesudahan karena telah ditinggalkannya Islam sebagai suatu sistem yang mampu menaungi mereka yaitu sistem khilafah Islamiyah. Sejak keruntuhannya pada tahun 1924 oleh Barat, benak kaum muslimin semakin dijauhkan tentang hakekat Islam yaitu Islam sebagai Ideologi yang terlahir dari aqidah yang mampu melahirkan seperangkat aturan yang sangat rinci dan sempurna, mencakup seluruh aspek kehidupan. Padahal sistem aturan ini lahir dari Zat Yang MahaKuasa dan MahaTahu atas segala sesuatu. Sehingga seluruh persoalan yang dihadapi makhluk-Nya dalam situasi dan kondisi apapun dapat diselesaikan dengan memuaskan, tanpa ada pihak manapun yang dirugikan. Aturan-aturan tersebut senantiasa sesuai dengan fitrah manusia dan memuaskan akal manusia yang pada akhirnya akan menenteramkan jiwa manusia. Aturan-aturan Islam tersebut diturunkan kepada Nabi Muhammad saw berupa Alquran dan Hadits, yang kemudian dikenal sebagai syariah. Karena itu, sangat naif jika dikatakan Islam hanya mengatur masalah aqidah dan ibadah mahdah semata, karena justru muatan syariahlah yang banyak kita temukan dalam Alquran dan Hadits.
Syariah Islam yang telah diterapkan di masa kehidupan Rasulullah Saw dan para sahabatnya telah menghantarkan kegemilangan peradaban Islam di muka bumi dan tercatat dalam sejarah kemanusiaan. Dalam bentangan sejarah dunia, Islam terbukti berhasil membangkitkan masyarakat, dari yang sebelumnya hidup dalam kebodohan dengan sebuah kebangkitan yang luar biasa dan tidak pernah bisa ditandingi oleh kebangkitan yang terjadi dalam masyarakat manapun; menjadi sebuah masyarakat mulia, yang mengawali terbentuknya peradaban agung yang berkemajuan. Itulah masyarakat Islam pertama dalam naungan Daulah Islam, yang disebut juga Daulah Khilafah pertama di Madinah al-Munawwarah. Selama lebih dari satu milenium, peradaban Islam nan gemilang itu menjadi mercusuar bagi seluruh umat manusia.
Dalam masyarakat Islam, sistem Islam bekerja mengatur masyarakat dengan sebaik-baiknya sehingga kerahmatan yang dijanjikan benar-benar dapat terwujud. Dalam kaitannya dengan perlindungan kaum minoritas, misalnya, telah terbukti Khilafah mampu melindungi mereka. Ketika orang-orang Yahudi terpaksa harus mengungsi akibat praktek inkuisisi yang dilakukan oleh orang-orang Kristen di Spanyol pada abad ke-15, mereka mendapat perlindungan dari Khalifah Bayazid II. Wilayah Negara Islam menjadi tempat tinggal mereka yang baru. Nyatalah bahwa Daulah Khilafah menjadi tempat yang nyaman bagi siapa pun. Semua warga negara Daulah Khilafah, tanpa memandang keyakinan, agama, ras dan bahasa, baik Muslim maupun non-Muslim, dijamin akan menikmati keadilan dan keamanan. Keadaan seperti ini tentu tidak bisa dipenuhi oleh sistem selain slam. Karena itu, wajar bila kemudian Daulah Khilafah mendapatkan loyalitas dari rakyat yang hidup di dalam naungannya, termasuk dari kalangan non-Muslim. Pasukan Salib yang datang menyerbu wilayah Syam ketika itu, terhenyak ketika mereka mendapati kenyataan bahwa mereka harus berhadapan dengan pasukan yang seagama, yakni orangorang Kristen di Syam, yang terjun dalam kancah peperangan untuk mempertahankan Daulah Khilafah,yang telah dianggap sebagai negara mereka sendiri. Kebangkitan umat Islam di masa lalu terbukti mampu menciptakan kemajuan di segala bidang, termasuk di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan di bidang ekonomi. Itu semua menjadi monument peninggalan sejarah dunia yang tak terlupakan.
Dalam bidang ilmu kedokteran dan astronomi misalnya, Daulah Khilafah jauh lebih maju dibanding dengan negara-negara lain pada waktu itu. Buktinya, universitas-universitas di berbagai wilayah Islam saat itu menjadi tempat utama buat orang-orang Eropa, termasuk para pangeran dan putri dari berbagai kerajaan di Eropa, untuk menimba ilmu. Salah satu ukuran orang berilmu ketika itu adalah kemampuannya dalam menguasai bahasa Arab, karena bahasa Arab seakan menjadi kunci harta karun ilmu yang memang saat itu kebanyakan ditulis dalam bahasa Arab.
Daulah Khilafah juga menjamin tersedianya akses bagi semua orang untuk mendapatkan kekayaan. Di saat yang sama mencegah kekayaan tersebut terpusat di tangan segelintir orang. Sepanjang kepemimpinan Daulah Khilafah, ketersediaan berbagai kebutuhan pokok (primer) bagi seluruh warga negara berhasil diamankan. Sementara itu, kesempatan untuk mendapatkan kebutuhan pelengkap (sekunder dan tersier) senantiasa terbuka bagi semua orang.Demikian sejahteranya masyarakat di masa Khalifah Umar bin Abdul Azis, misalnya, pernah terjadi di wilayah Afrika, harta zakat tidak bisa dibagikan di sana karena tidak ada seorang pun yang layak menerimanya. Demikian pula selama berabad-abad di bawah pemerintahan Islam,masyarakat di anak benua India menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.
Dalam konstelasi politik internasional, Daulah Khilafah menjadi negara nomor satu selama berabad-abad tanpa pesaing. Daulah Khilafah berhasil menyatukan berbagai sumberdaya yang luar biasa besar yang dimiliki umat Islam dalam sebuah institusi negara yang luasnya mencapai tiga benua. Khilafah telah menggariskan sebuah kebijakan yang dibangun di atas dasar prinsip keadilan dan kebenaran, hingga ia mampu menjadi pemimpin bangsa-bangsa yang ada. Kabar tentang tentang keadilan Daulah Khilafah tersebar luas melintasi perbatasan wilayah kekuasaannya. Hal ini membuat banyak sekali manusia tertarik untuk masuk Islam. Saat wilayah-wilayah itu direbut pasukan Tartar dan tentara Salib, umat Islam di tempat itu tidak sedikit pun menyerah. Mereka terus berjuang hingga akhirnya berhasil merebut kembali wilayah itu dan mengakhiri penjajahan di sana.
Inilah umat terbaik (khayru ummah) yang diturunkan Allah SWT, yang menjadi contoh bagi seluruh umat manusia, sebagaimana firman Allah SWT:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Qs. Ali ‘Imran [3]: 110)
Kondisi semacam ini insya Allah dapat diwujudkan kembali asal umat Islam mau kembali kepada rahasia kejayaan Islam, yakni diterapkannya sistem Islam secara kaffah melalui Daulah khilafah di satu atau lebih negeri Muslim yang kuat, sebagai titik awal proses penyatuan kembali atau reunifikasi seluruh dunia Islam.
Karena itu, satu-satunya jalan keluar untuk mengentaskan kondisi keterpurukan di atas adalah kembali kepada Islam dan mewujudkan kembali khilafah Islamiyah yang menaungi muslimah dan keluarga muslim dari berbagai macam ancaman,hambatan,tantangan dan serangan dari pihak-pihak yang tidak menginginkan Islam tegak. Ada beberapa hal yang diperlukan untuk diwujudkan oleh muslimah dan keluarga muslim dimanapun mereka berada berada, yaitu:
Pertama, dibutuhkan ketakwaan masing-masing individu untuk menyadari posisinya sebagai hamba Allah SWT. Manusia adalah sosok lemah, tak berdaya di hadapan Allah SWT.
Kedua, seluruh elemen masyarakat harus kembali taat dan tunduk pada syariah Islam sebagai wahyu Ilahi, dengan cara menerapkannya di berbagai lini kehidupan.
Ketiga, seluruh elemen masyarakat, termasuk muslimah hendaknya melibatkan diri dalam perjuangan untuk membangkitkan kembali peradaban Islam. Kontribusi sekecil apapun hendaknya gigih dilakukan dalam mengupayakan tegaknya panji-panji ilahi melalui jalan dakwah. Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat/jamaah yang menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” (TQS Ali-Imran: 104).
Memang, memperjuangkan tegaknya syariah dan Khilafah di tengah-tengah kehidupan yang sekuler bukan perkara gampang. Perlu kesungguhan, keseriusan dan kesabaran untuk mewujudkannya. Karena itu, kewajiban kita sebagai Muslimah adalah sekuat tenaga mencurahkan segala kemampuan dalam rangka mengikuti jejak Rasulullah Saw dan para shahabat, melaksanakan dakwah sebagaimana yang telah mereka lakukan. Wahai Muslimah, marilah segera kita rapatkan barisan dan mengerahkan segala potensi untuk menunaikan seruan Allah SWT.
" Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa." (TQS Ali Imran:133).
Selengkapnya...
Selasa, 27 Oktober 2009
Untukmu Perempuan ....
Oleh :Mustanirrah Gindah (Kemuslimahan LDK Ath-Thabrani Universitas Abdurab)
“Cewek yang sering bikin mata para buaya darat dan mata keranjang senang bukan kepalang
adalah cewek yang sangat kerepotan. Repot dengan semua kebebasannya dalam memamerkan tubuhnya. Seandainya kita bisa melihat bagaimana ribetnya dia dalam mempersiapkan shownya ke jalan jalan dalam kamarnya. Asli sibuk padahal cuman untuk jual diri aja, susah amat.
Cewek yang dengan bodohnya merasa merdeka dengan semua keterkurungannya. Dengan segala keribetannya untuk menunjukkan kebebasannya dalam mengobral tubuh dan menuruti anjuran eksploitasi tubuh oleh iklan dan media massa”.
Penggalan paragraph diatas diambil dari tulisan Chio sang penulis buku “jangan sadarin cewek” dan “jangan sadarin jilbaber” yang menurutku fenomenal. Setidaknya dikalangan para perempuan. Dan sesungguhnya tulisan ini terinspirasi dari dua buku tersebut (buat yang belum punya, kudu cari!!! Maksa nich!!). tak bisa kusangkal bahwa aku terpesona dengan tulisan-tulisannya. Sederhana, tapi kena!! Dan siapapun yang membaca, kuyakin punya pemikiran yang sama denganku. Aku bukannya ingin mengulas dua buku itu lebih dalam, bukan kapasitasku , tapi aku ingin mengingatkanmu bahwa sesungguhnya penulis dari buku itu ialah seorang lelaki.
Aku terheran-heran mengapa Chio yang juga sering nulis di majalah mini badai otak itu, begitu mengetahui rahasia seorang perempuan, ia begitu dalam menganalis kita. Aku tak tau bagaimana ia bisa mengetahui pemikiran seorang perempuan, aku yakin ia sudah membaca banyak literatur atau melakukan penelitian. Tapi bukan itu yang menjadi fikiranku, tapi ialah kesimpulan bahwa ternyata selama ini mereka resah…!!
Mereka ternyata terganggangu oleh kita. Mereka tidak nyaman hidup berdampingan dengan kita. Bukan,… bukan hanya karena mereka tak punya iman, lebih dahsyat dari itu semua ialah tatanan hidup sekuler yang mengelilingi kita. Mereka para lelaki juga manusia biasa. Punya gharizah (naluri) yang seharusnya terjaga, tetapi karena kita, mereka menjadi hewan berwujud manusia.
Kau tau sobat, Menjelang bulan suci Ramadhan 1430 Hijriah kemarin, media massa Indonesia banyak menyiarkan berita tentang prestasi yang diraih oleh Zivanna Letisha Siregar, putri Indonesia yang ikut dalam Kontes Ratu Kecantikan Sejagad (Miss Universe) 2009.
Hasil jajak pendapat di missuniverse.com pada Kamis (20/8/2009) menunjukkan, Zivanna menduduki peringkat ketiga, satu prestasi yang belum pernah diraih oleh putri Indonesia sebelumnya. Prestasi itu diraih karena banyaknya orang Indonesia yang mendukungnya lewat polling. Media massa pun gegap gempita mendukungnya. Banyak yang secara terbuka bangga dan berharap, Zizi akan menang dalam kontes Miss Universe tersebut. Dan yang paling membuat menarik ialah, tak terdengar lagi suara-suara yang menolak keikutsertaan perempuan ini. Baik dari ormas-ormas islam dan sebagainya. Seolah-olah ikut mendukung perhelatan ini.
Sobat, aku rasa engkau tak terlalu bodoh untuk tidak mengetahui ajang ini dan sejenisnya, slogan 3B, beauty, brain and behavior hanya omong kosong. Seandainya ada seorang perempuan sumbing (maaf, ini contoh saja) yang punya otak dan perilaku luar biasa ikut dalam kontes ini, aku tak yakin ia akan menang. Karena sesungguhnya penilaian ialah terletak pada 3P, paras, paha, dan pinggul. jika tidak, mengapa kemudian ada sesi pakai bikini?? Sesi acara yang paling riuh dimana para lelaki tak kuat iman berkumpul untuk menontonnya.
Ada lagi kasus seorang putri asal aceh., Qory Sandioriva. Ia berhasil memenangkan ajang kontes putri Indonesia 2009, sebelumnya ialah adalah lulusan sebuah Smu islam dan sebelumnya memakai kerudung. Tetapi untuk ajang ini, ia gadaikan imannya begitu saja. Sungguh keren engkau perempuan.
Dan yang terbaru ialah akan hadirnya artis asal jepang Miyabi yang terkenal sebagai bintang panas dinegrinya. Meski akhirnya dilarang oleh elemen penguasa negri ini. Tetapi bukan maksud hati meramaikan perbincangan seputar dia, aku hanya mengingatkan bahwa selain kasus Miyabi ini, pornografi Sudah sangat mengelilingi kita. Undang-undang yang diharapkan dapat meredamnya, ternyata tak seperti yang diinginkan. Seharusnya kita prihatin, sedih, dan sekaligus kesal dengan kenyataan ini. Karena setiap hari kita nyaris digempur dengan banyaknya visualisasi dan bacaan bernuansa pornografi dan pornoaksi. Semua itu bukan hanya karena kita hidup dalam alam kapitalis, tapi ini juga karena kau, karena kau yang menghendakinya.
Sobat, sudah saatnya bangun, atau jangan-jangan kau masih betah menjadi objek eklpoitasi para lelaki?? renungkan wahai para perempuan,
Rasulullah saw bersabda;
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan manusia yang menjadi penghuni neraka, yang sebelumnya aku tidak pernah melihatnya; yakni, sekelompok orang yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk menyakiti umat manusia; dan wanita yang membuka auratnya dan berpakaian tipis merangsang berlenggak-lenggok dan berlagak, kepalanya digelung seperti punuk onta. Mereka tidak akan dapat masuk surga dan mencium baunya. Padahal, bau surga dapat tercium dari jarak sekian-sekian.”[HR. Imam Muslim].
Imam Ahmad juga meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah dengan redaksi berbeda.
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَا أَرَاهُمَا بَعْدُ نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلَاتٌ مُمِيلَاتٌ عَلَى رُءُوسِهِنَّ مِثْلُ أَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَرَيْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَرِجَالٌ مَعَهُمْ أَسْوَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ
“Ada dua golongan penghuni neraka, yang aku tidak pernah melihat keduanya sebelumnya. Wanita-wanita yang telanjang, berpakaian tipis, dan berlenggak-lenggok, dan kepalanya digelung seperti punuk onta. Mereka tidak akan masuk surga, dan mencium baunya. Dan laki-laki yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk menyakiti umat manusia “[HR. Imam Ahmad]
Ada perintah untuk mengenakan kerudung dan jilbab yang keduanya harus kau pahami secara benar. Pakaian yang telah ditetapkan oleh syariat Islam bagi wanita ketika ia keluar di kehidupan umum adalah khimar dan jilbab. Dalil yang menunjukkan perintah ini adalah firman Allah swt;
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya..”[al-Nuur:31]
Ayat ini berisi perintah dari Allah swt agar wanita mengenakan khimar (kerudung), yang bisa menutup kepala, leher, dan dada.
Adapun kewajiban mengenakan jilbab bagi wanita Mukminat dijelaskan di dalam surat al-Ahzab ayat 59. Allah swt berfirman :
يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”.[al-Ahzab:59]
Ayat ini merupakan perintah yang sangat jelas kepada wanita-wanita Mukminat untuk mengenakan jilbab. Adapun yang dimaksud dengan jilbab adalah milhafah (baju kurung) dan mula’ah (kain panjang yang tidak berjahit). Di dalam kamus al-Muhith dinyatakan, bahwa jilbab itu seperti sirdaab (terowongan) atau sinmaar (lorong), yakni baju atau pakaian longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutup pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.”[Kamus al-Muhith]. Sedangkan dalam kamus al-Shahhah, al-Jauhari mengatakan, “jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhafah) yang sering disebut dengan mula’ah (baju kurung).”[Kamus al-Shahhah, al-Jauhariy]
Tapi, Di negeri kapitalis nan sekuler ini, kita dituntut untuk lebih banyak ‘memaklumi’ dan mungkin saja harus kompromi dengan kondisi yang ada. sekularisme membolehkan orang untuk berprinsip permisif alias serba boleh bahkan silakan saja jika mau memeluk erat budaya hedonisme. Sah-sah saja dalam aturan sekularisme. Tak boleh ada yang melarang dan tak boleh ada yang cerewet ngomongin. Karena itu untuk kau yang beideologi kapitalis, ayat-ayat tadi tentu tak punya apa-apa. Dan tak bernilai apapun dimatamu. Ya terserahlah…ditanganmu sebuah pilihan. Sadar memang sesuatu yang sangat mahal. Tetaplah tidur dalam mimpi yang seolah nyata ini, Wahai engkau perempuan….(Gm/berbagai sumber)
Selengkapnya...







