Rabu, 10 Februari 2010
Tiga Kata untuk Remaja Latah Valentine Day
Valentine Day, makin angot saja. Remaja muslim banyak yang ikutan. Begitu pula kebiasaan pacaran. Bukti kalahnya budaya Islam?
Kalau sudah masuk bulan Febuari, nuansa cinta bertebaran. Warna pink jadi dominan. Coklat, asesoris dengan bentuk hati (mohon jangan dibaca dua kali!), dan seabreg-abreg kartu cinta laku banget. Belum lagi request lagu cinta macam Dilemma-nya Nelly Tidak perlu kita ceritain kalo itu adalah bagian dari ritual peringatan Valentine Day (Hari cinta sedunia).
Wah, kita mah mau terus terang aja ya Mas, Den, Mba’, Teh, kalo Valentine Day adalah budaya kufur. Sudah terlalu banyak sejarawan–muslim ataupun non-muslim yang membeberkan kalau peringatan Valentine Day itu berkaitan dengan ritual agama di luar Islam.
Malah, tidak sedikit pemuka agama Nasrani yang juga keberatan pada umatnya yang hanyut dengan kegiatan Valentine Day ini. Menurut mereka Valentine Day nggak ada hubungannya dengan keimanan kaum Nasrani. Menurut Ken Sweiger yang menulis artikel “Should Biblical Christians Observe It?” (www.korrnet.org) kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Jadi, sama sekali nggak ada hubungan dengan agama Nasrani.
Dengan agama Islam? Wah, bak langit dan kerak bumi. Kagak nyambung abis. Nggak percaya? Cari aja di Al Qur’an, kitab-kitab hadits ataupun kitab-kitab fikih. Nggak ada satupun ulama yang menganjurkan peringatan Valentine Day. Yang ada malah larangan berat. Sebut saja firman Allah Ta’ala:
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Surah Al-An’am : 116)
Juga hadits Nabi saw. : “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk ke dalamnya.”
Juga sabdanya yang lain:
“Barangsiapa yang beramal dengan amalan yang tidak ada urusannya dalam perkara kami (agama Islam), maka ia tertolak.”
So, kalo ada remaja muslim/muslimah yang kelatahan beli coklat, permen, asesoris bentuk hati atau ngirim gambar via sms atau MMS yang berhubungan dengan Valentine Day, kita kasih aja tiga kata: ISTIGHFAR DEH LO..! [voa-islam]
Selengkapnya...
Say No To Valentine Day !
Hari Valentine (Valentine's Day), pada tanggal 14 Februari adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat. Asal-muasalnya yang gelap sebagai sebuah hari raya Katolik Roma didiskusikan di artikel Santo Valentinus. Beberapa pembaca mungkin ingin membaca entri Valentinius pula. Hari raya ini tidak dikaitkan dengan cinta yang romantis sebelum akhir Abad Pertengahan ketika konsep-konsep semacam ini diciptakan.
Sejarah Hari Valentine
Perayaan Kesuburan bulan Februari
Menghubungkan pertengahan bulan Februari dengan cinta dan kesuburan sudah ada sejak dahulukala. Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.
Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.
Hari Raya Gereja
Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), nama Valentinus paling tidak bisa merujuk tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda:
• seorang pastur di Roma
• seorang uskup Interamna (modern Terni)
• seorang martir di provinsi Romawi Africa.
Koneksi antara ketiga martir ini dengan hari raya cinta romantis tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.
Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus dia Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine, di mana peti emas diarak-arak dalam sebuah prosesi khusyuk dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.
Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santa yang asal-muasalnya bisa dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.
Valentinius
Guru ilmu Agnostisisme yang berpengaruh Valentinius, adalah seorang calon uskup Roma pada tahun 143. Dalam ajarannya, tempat tidur pelaminan memiliki tempat yang utama dalam versi Cinta Kasih Kristianinya. Penekanannya ini jauh berbeda dengan konsep... dalam agama Kristen yang umum. Stephan A. Hoeller, seorang pakar, menyatakan pendapatnya tentang Valentinius mengenai hal ini: "Selain sakramen permandian, penguatan, ekaristi, imamat dan perminyakan, aliran gnosis Valentinius juga secara prominen menekankan dua sakramen agung dan misterius yang dipanggil "penebusan dosa" (apolytrosis) dan "tempat pelaminan"..." [1].
Era abad pertengahan
Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris pertengahan ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa
For this was sent on Seynt Valentyne's day ("Untuk inilah dikirim pada hari Santo Valentinus")
When every foul cometh there to choose his mate ("Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya")
Pada zaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasangan mereka "Valentine" mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada zaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa:
• Sore hari sebelum santo Valentinus akan gugur sebagai martir (mati membela keyakinan agamanya), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis "Dari Valentinusmu".
• Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo
Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka.
Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.
Demikianlah sekilas mengenai sejarah hari valentine yang menunjukkan sama sekali bukan ajaran islam, apalagi sesuatu yang pernah diajarkankan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Dia hanyalah merupakan campuran tradisi romawi kuno dengan agama nashrani yang sesat. Mudah-mudah kita dan para pemuda kita dijauhkan oleh Allah dari hal maksiat dan syirik seperti ini.
Wallahu a'lam bis-shawab (wikipedia)[sumber asli voa-islam]
Selengkapnya...
Sabtu, 26 Desember 2009
DAKWAH…HARUS IDEOLOGIS!! BUKAN PRAGMATIS!!
Gindah Mustanirrah
(kritik terhadap artikel berjudul “PKS 2014,Antara bumi dan langit” )
“Aku di Drop out dari kampusku karena tak mengindahkan perintah mereka untuk melepaskan jilbab, belum lagi keluarga yang rela mengusirku dari rumah karena aku memilih untuk tetap berada dijalan dakwah ini” (Majalah Permata,edisi November 2003)
Secuil kisah diatas adalah sepetak masalah dari luasnya langit Allah yang maha luas. Keimanan dalam tatanan hidup sekuler memang penuh pengorbanan. ‘perbedaan’ dengan kebanyakan masyarakat menjadi ujian bagi mereka yang tetap mempertahankan keimanannya. ‘Kaum marjinal’ adalah sebutan yang dialamatkan kepada mereka dari pihak yang merasa dirinya intelektual.
Adapun hinaan, cacian, bahkan ancaman seharusnya tak menjadi faktor melemahnya dakwah. Justru menjadi penguat akan hadirnya kembali kehidupan islam. Pengorbanan seperti yang diceritakan diatas tidaklah sebanding dengan pengorbanan yang telah dilakukan Rasulullah dan para sahabat.
Mereka yang sadar betapa pentingnya dakwah tak kan pernah berdiam diri dengan kondisi ketidaknyamanan ini. Karena faktanya, masyarakat Islam saat ini hanya berkumpul, sementara hati dan otak mereka beragam. Buktinya ketika ada kemaksiatan yang dilakukan oleh salah seorang anggota masyarakat, anggota masyarakat lain tidak berusaha mencegahnya karena tidak memiliki kesatuan perasaan dan pikiran dalam menilai perbuatan tersebut.
Semangat yang sekarang ini hilang dalam diri kaum muslimin justru adalah semangat dalam berdakwah. Kita menjadi penakut dalam menyerukan kebenaran. Terlalu khawatir dengan risiko yang bakal diterima sebagai konsekuensi dari melaksanakan dakwah.
Dakwah memang membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit, baik waktu, tenaga, harta, bahkan jiwa kita sendiri. Namun, bila kita yakin dengan keutamaan dakwah yang mulia, juga karena dakwah adalah kewajiban, maka penderitaan dan pengorbanan itu akan menjadi kenikmatan tersendiri. Semua itu akan dihargai oleh Allah dengan pahala yang besar. Kita akan tetap bersemangat dan sabar menghadapi risiko, karena keberlangsungan kehidupan umat ini merupakan tanggungjawab kita. Kalau bukan kita, siapa lagi? Karena kita tidak pernah tega menyaksikan saudara-saudara kita dihina bahkan dibeberapa negri-negri muslim mereka dibantai tanpa ampun.
Saat ini, para penguasa negeri-negeri kaum muslimin tak kuasa menghadapi berbagai intimidasi yang berujung kepada penyerahan diri secara menghinakan. Benturan-benturan ekonomi, politik, sosial bahkan hukum dan pemerintahan, telah mengantarkan mereka kepada penghambaan terhadap bangsa-bangsa Barat yang kufur dan jelas-jelas memerangi Islam dan kaum muslimin. Semua berujung pada diterapkan sistem demokrasi yang membuat hidup masyarakat semakin sempit. Tatanan sekuler membuat kaum muslimin kehilangan kuku tajamnya untuk melawan kedzaliman yang menimpa mereka.
pemikiran adalah senjata utama bagi setiap umat. Mereka akan bangkit bila pemikirannya maju, hidup, dan bersemangat. Mereka mundur bila pemikirannya surut apalagi lenyap. Keberadaan suatu umat akan lestari kalau obor pemikiran terus menyala, dan musnahnya umat disebabkan karena obor pemikirannya padam. Maka ketika umat dalam kebobrokan ini tak ingin hidup dalam kubangan kehancuran yang terus menerus, maka dakwah sangatlah urgen untuk dilakukan. Tentunya dakwah yang mengubah pemikiran dan perasaan umat kepada islam.
Dakwah kepada kebangkitan bukanlah dakwah parsial ala parlemen
Kemunduran umat ini lebih disebabkan dari merosotnya taraf berpikir. Karenanya, langkah bijaksana tentu saja adalah berupaya bagaimana meningkatkan kembali taraf berpikir umat Islam ini. Berusaha memberikan gambaran yang jelas tentang pentingnya Islam bagi kehidupan kaum muslimin.
Selain berawal dari individu dalam upaya menyadarkan pemikiran umat ini, maka langkah yang harus ditempuh adalah bagaimana upaya kita menyadarkan masyarakat, yang memang merupakan komponen yang sangat menentukan dalam terciptanya sebuah kehidupan yang global.
Berpikir politis! Inilah yang jarang dilakukan oleh kaum muslimin saat ini. Karena mengira bahwa politik harus dijauhkan dari arena kehidupan. Politik adalah najis. Begitu kata sebagian umat ini, karena terlanjur menelan ide dari peradaban barat yang rusak. Ini pula yang kemudian semakin memperparah keadaan kaum muslimin. Padahal berpikir politis akan mampu membangkitkan kaum muslimin dari keterpurukan. Tapi hari ini, kesalahan fatal yang dilakukan kaum muslimin dalam upaya membangkitkan umat ialah dengan terjun dalam parlemen atau lembaga legislative, serta mengambil peran dalam sistem sekuler buatan manusia ini. Padahal jelas, hukum-hukum yang diterapkan dinegri ini bukanlah hukum yang bersumber dari Syariah Islam. Cukup aneh jika mereka yang merasa “berdakwah” dengan masuk menjadi anggota dewan, pejabat pemerintahan, mentri dsb ini masih merasa “BERIDEOLOGI ISLAM”. Padahal jelas dalam firman Allah :
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” ]TQS Al Maidah (5): 44].
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” [TQS Al Maidah (5):47].
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” [TQS Al Maidah (5): 45]
Peran yang bisa kita ambil di bidang politik yang benar adalah peran aktif. tapi, di saat kehidupan Islam belum terbentuk, yang dapat, bahkan wajib, kita lakukan adalah kesertaannya dalam perjuangan menegakkan kehidupan Islam itu sendiri melalui dakwah siyasiyah (dakwah secara politis). Maksudnya, kita berupaya menyadarkan umat lewat berbagai cara dan upaya, kemudian mendorongnya untuk bersama-sama menegakkan kehidupan Islam dibawah daulah Khilafah. Fase perjuangan menegakkan kehidupan Islam dijalani Rasulullah ini dilakukan diluar parlemen, bukan justru masuk dan terlibat didalamnya. Rasulpun tak tergiur dengan jabatan yang ditawarkan penguasa yang ingin menghambat dakwahnya. Rasul dengan gigih ditengah hambatan dan gangguan yang makin besar. Pada masa sekarang, dimana kehidupan Islam tidak terwujud, peran politik inilah yang layak untuk kita ambil.
Pertama, menghapuskan kebiasan berpikir dangkal setiap individu dengan cara mendidik, membina dan mengarahkan taraf berpikirnya menjadi pemikiran yang maju dan produktif. Kedua, memperbanyak pengalaman kaum muslimin dengan cara melakukan berbagai analisis terhadap kenyataan (peristiwa) yang terjadi pada berbagai situasi dan kondisi, misalnya analisis di bidang ekonomi, politik, sejarah budaya, pendidikan, perbandingan agama dan kepercayaan (semisal kristologi dan kebatinan dsb). Ketiga, mengajak umat untuk mengikuti perkembangan masyarakat, negara dan dunia.
Jadi tunggu apalagi, umat ini membutuhkan orang-orang yang ikhlas dan berani dalam membimbing dan membina kaum muslimin untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Yakin deh, bahwa kebangkitan Islam dan kaum muslimin ini akan segera kita raih, asal ada kemauan untuk memperjuangkannya. Tentu dengan cara yang benar dan baik. Ayo, kita bisa!
Rasulullah bersabada :”Andaikan matahari diletakkan ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku, aku tak akan meninggalkan urusan dakwah ini, sampai aku memenangkannya atau Aku mati karenanya.
(dengan berbagai Revisi /From ust.Iwan Januar, salah satu pengisi Voice of Islam, Konsultan Ramaja)
Selengkapnya...
Sabtu, 19 Desember 2009
Haram, Ikut Natal Bersama!
Apabila ahli ma’ruf bercampur dengan ahli munkar, tanpa mengingkari mereka, maka ahli ma’ruf itu sebagaimana halnya orang yang meridlai dan terpengaruh dengan kemunkaran itu.
Setiap bulan Desember umat Islam selalu dihadapkan fitnah yan bisa mengancam aqidahnya. Dengan dalih toleransi dan kerukunan beragama, umat Islam diseret turut serta terlibat dalam perayaan Natal bersama. Bahkan seolah menjadi ritual wajib, pejabat yang menduduki jabatan publik harus ikut hadir. Ironisnya, ada saja di antara tokoh umat yang menyerukan kebolehan terlibat dalam perayaan Natal. Bahkan beberapa tahun lalu, ketua sebuah ormas Islam mempersilakan semua fasilitas organisasinya minus masjid digunakan sebagai perayaan Natal.
Haram Terlibat dalam Perayaan Kufur
Bagi kaum Muslim seharusnya senantiasa mengikatkan dirinya dengan hukum syara’. Dan hukum syara’ mengenai persoalan tersebut sesungguhnya telah jelas: haram. Kaum muslim diharamkan melibatkan diri di dalam perayaan hari raya orang-orang kafir, apapun bentuknya. Melibatkan diri di sini mencakup aktivitas: mengucapkan selamat, hadir di jalan-jalan untuk menyaksikan atau melihat perayaan orang kafir, mengirim kartu selamat, dan lain sebagainya. Sedangkan perayaan hari raya orang kafir di sini mencakup seluruh perayaan hari raya, perayaan orang suci mereka, dan semua hal yang berkaitan dengan hari perayaan orang-orang kafir (musyrik maupun ahlul kitab).
Ketentuan tersebut didasarkan pada firman Allah swt: al-ladzîna lâ yasyhadûna al-zûr (QS al-Furqan [25]: 72). Ayat ini menjelaskan tentang salah satu dari sifat ‘ibâd al-Rahmân. Menurut sebagian besar mufassir, makna kata al-zûr (kepalsuan) di sini adalah syirik. Demikian papar al-Syaukani dalam kitab tafsirnay, Fath al-Qadîr.. Ibnu Katsir dalam tafsirnya Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm menyitir pendapat beberapa mufassir seperti Abu ‘Aliyah, Thawus, Muhammad bin Sirrin, al-Dhahhak, al-Rabi’ bin Anas, dan lainnya, memaknai al-zûr di sini adalah hari raya kaum Musyrik. Lebih luas, Amru bin Qays menafsirkannya sebagai majelis-majelis yang buruk dan kotor.
Sedangkan kata lâ yasyhadûna, menurut jumhur ulama’ bermakna lâ yahdhurûna al-zûr, tidak menghadirinya. Demikian penjelasan al-Syaukani dalam Fath al-Qadîr. Memang ada yang memahami ayat ini berkenaan dengan pemberian kesaksian palsu (syahâdah al-zûr) yang di dalam Hadits Shahih dikategorikan sebagai dosa besar. Akan tetapi, dari konteks kalimatnya, lebih tepat jika dimaknai lâ yahdhurûnahu, tidak menghadirinya. Sebab, dalam frasa berikutnya disebutkan: “Dan apabila mereka melewati (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya” (TQS al-Furqan [25]: 72).
Dengan demikian, keseluruhan ayat ini memberikan pengertian bahwa mereka tidak menghadiri al-zûr. Dan jika mereka melewatinya, maka mereka segera melaluinya, dan tidak mau terkotori sedikit pun olehnya (lihat Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, juz 3, hal. 1346).
Berdasarkan ayat ini pula, banyak fuqaha’ yang menyatakan haramnya menghadiri menghadiri perayaan hari raya kaum kafir. Ibnu Taimiyyah menyitir penjelasan beberapa ulama terkemuka mengenai persoalan ini. Ahmad bin Hanbal berkata: “Kaum Muslim telah diharamkan untuk merayakan hari raya orang-orang Yahudi dan Nasrani.“ (lihat Iqtidhâ’ al-Shirâth al-Mustaqîm, hal.201). Imam Baihaqi menyatakan, “Jika kaum Muslim diharamkan memasuki gereja, apalagi merayakan hari raya mereka.” (lihat Iqtidhâ’ al-Shirâth al-Mustaqîm, hal.201).
Sedangkan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Ahkâm Ahl al-Dzimmah menyitir penjelasan yang dikemukakan Abu al-Qasim al-Thabari. Beliau berkata, “Tidak diperbolehkan bagi kaum Muslim menghadiri hari raya mereka karena mereka berada dalam kemunkaran dan kedustaan (zawr). Apabila ahli ma’ruf bercampur dengan ahli munkar, tanpa mengingkari mereka, maka ahli ma’ruf itu sebagaimana halnya orang yang meridlai dan terpengaruh dengan kemunkaran itu. Maka kita takut akan turunnya murka Allah atas jama’ah mereka, yang meliputi secara umum. Kita berlindung kepada Allah dari murka-Nya, juz 1. hal. 235).
Pada masa-masa kejayaan Islam, pemerintahan Islam saat itu –sejak masa Rasulullah SAW –, kaum muslim tidak diperbolehkan merayakan hari raya ahlul Kitab dan kaum musyrik. Dari Anas ra bahwa ketika Rasulullah SAW datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari raya yang mereka rayakan, beliau pun bersabda: “Sungguh Allah swt telah mengganti dua hari itu dengan dua hari yang yang lebih baik daripada keduanya, yaitu Idul Adha dan idul Adha.” (HR. Abu Dawud dan al-Nasa’i dengan sanad yang shahih).
Pada masa pemerintahan Khalifah ‘Umar bin al-Khaththab, beliau juga telah melarang kaum Muslim merayakan hari raya orang-orang kafir. Imam Baihaqiy telah menuturkan sebuah riwayat dengan sanad shahih dari ‘Atha’ bin Dinar, bahwa Umar ra pernah berkata, “Janganlah kalian menmempelajari bahasa-bahasa orang-orang Ajam. Janganlah kalian memasuki kaum Musyrik di gereja-gereja pada hari raya mereka. Sesungguhnya murka Allah SWT akan turun kepada mereka pada hari itu.” (HR. Baihaqi). Beliau juga mengatakan: “Jauhilah musuh-musuh Allah pada di hari raya mereka.”
Jelaslah, Islam telah melarang umatnya melibatkan diri di dalam perayaan hari raya orang-orang kafir, apapun bentuknya. Melibatkan diri di sini mencakup perbuatan; mengucapkan selamat, hadir di jalan-jalan untuk menyaksikan atau melihat perayaan orang kafir, mengirim kartu selamat, dan lain sebagainya. Adapun perayaan hari raya orang kafir di sini mencakup seluruh perayaan hari raya, perayaan orang suci mereka, dan semua hal yang berkaitan dengan hari perayaan orang-orang kafir (musyrik maupun ahlul kitab).
Melenyapkan Syubhat
Di antara ayat sering digunakan untuk melegitimasi bolehnya mengucapkan selamat natal adalah firman Allah Swt: “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (TQS Maryam [19]: 33).
Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan kebolehan mengucapkan selamat natal kepada kaum Nasrani. Di dalam ayat ini memang disebutkan tentang keselamatan pada hari kelahiran Isa. Akan tetapi, itu memberitakan keselamatan Nabi Isa ketika beliau dilahirkan, diwafatkan dan dibangkitkan. Tidak ada kaitannya dengan ucapan selamat Natal. Sebab, Natal adalah perayaan dalam rangka memperingati kelahiran Yesus di Bethlehem. Sejak abad keempat Masehi, pesta atau perayaan natal ditetapkan tanggal 25 Desember, menggantikan perayaan Natalis Solis Invioti (kelahiran matahari yang yang tak terkalahkan).
Telah maklum, bahwa keyakinan Nasrani terhadap Isa as –yang mereka sebut Yesus– adalah sebagai Tuhan. Dan keyakinan ini menjadi salah satu penyebab kekufuran mereka. Banyak sekali ayat menegaskan hal ini, seperti firman QS al-Maidah [5]: 72, QS al-Maidah [5]: 73-74).
Bertolak dari fakta tersebut, perayaan Natal yang merayakan ‘kelahiran Tuhan’ merupakan sebuah kemunkaran besar. Sikap yang seharusnya dilakukan kaum Muslim terhadap pelakunya adalah menjelaskan kesesatan mereka dan mengajak mereka ke jalan yang benar, Islam. Bukan malah mengucapkan selamat terhadap mereka. Tindakan tersebut dapat dimaknai sebagai sikap ridha dan cenderung terhadap kemunkaran besar yang mereka lakukan. Padahal Allah Swt berfirman:“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (TQS Hud [11]: 113).
Menurut Abu al-Aliyah, makna kata al-rukûn adalah ridla. Artinya ridla terhadap perbuatan orang-orang zhalim. Ibnu Abbas memaknainya al-mayl (cenderung). Sedangkan menurut al-Zamakhsyari, al-rukûn tak sekadar al-mayl, namun al-mayl al-yasîr (kecenderungan ringan). Ini berarti, setiap Muslim wajib membebaskan dirinya dari kezahliman. Bukan hanya dalam praktik, namun sekadar kecenderungan sedikit saja sudah tidak diperbolehkan.
Jelaslah, haram hukumnya kaum Muslim terlibat dalam perayaan hari raya kaum kaum kafir, baik Musyrik maupun Ahli Kitab. Wal-Lâh a’lam bi al-Shawâb. (Abu Burhan dan Abu Said)
Selengkapnya...
Senin, 14 Desember 2009
Sejarah Singkat Tahun Hijriyah

Selamat Tahun Baru 1 Muharrom 1430 Hijriyah
Mohon Maaf atas Segala Salah Khilaf yang Telah Lalu
Semoga ke depan kita semakin baik dan baik lagi
Termasuk golongan orang-orang yang beruntung
Yaitu yang hari ini lebih baik dari hari kemarin
Yaitu yang besok lebih baik dari hari ini
Amin…
Pada tangga 6 bulan Agustus 610M Rosululloh Muhammad SAW dilantik menjadi Rosul. Kemudian pada tanggal 28 Juni 623 M belio Hijrah dari kota Mekkah ke kota Madinah. Tepat pada tanggal 9 Juni 633 Masehi Rosululloh wafat.
Setelah Rosululloh wafat kemudian kepala Negara diganti oleh shohabat Abu Bakar Shiddiq r.a. selama 2 tahun dan pada tahun 635 M setelah Shohabat Abubakar wafat. Selanjutnya kepala Negara diganti oleh Shohabat Umar bin Khottob selama 10 tahun.
Jadi Rosululloh SAW menjanat sebagai ROSUL selama 13 tahun dan kemudian menjadi Rosul dan Kepala Negara di Madinah selama 10 tahun. Shohabat Abu Bakar Shiddiq r.a. menjadi kepala Negara di Madinah selama 2 tahun. Shohabat Umar Bin Khothob r.a. menjadi kepala Negara di Madinah selama 10 tahun.
Pada waktu shohabat Umar bin Khottob menjadi kepala Negara di Madinah, banyak Negara-negara yang takluk dengan Madinah seperti :
Negara Mesir
Negara Irak atau Mesopotamia
Negara Yaman
Negara Bahrain
Negara Persi atau Iran
Negara Palestina
Negara Syiria
Negara Turki
Sebelum Negara-negara seperti Syiria, Turki, Mesir dan Palestina masuk wilayah Medinah, Negara-negara tersebut masuk wilayah Negara Rumawi yang Kristen.
Negara Negara seperti Kuffah, Baghdad , Basroh di Irak masuk wilayah Negara Persi.
Setelah Shohabat Umar bin Khottob r.a. menjadi kepala Negara Madinah selama 10 tahun beberapa Negara tersebut di atas dikuasai dan pusat pemerintahannya berada di Madinatul Munawaroh. Selama Shohabat Umar menjadi kepala Negara, kemudian mengangkat beberapa Gubernur yaitu antara lain :
Shohabat Muawiyyah diangkat menjadi Gubernur di Syiria, termasuk wilayahnya adalah Yordania.
Shohabat Amru bin Ash diangkat menjadi Gubernur Mesir.
Shohabat Musa Al As’ari diangkat menjadi Gubernur Kuffah.
Shohabat Mu’adz bin Jabal diangkat menjadi Gubernur Yaman.
Shohabat Abu Hurairah diangkat menjadi Gubernur Bahrain .
Ibu Kota Negara sebagai pusat kendali pemerintahan dibawah seorang Kepala Negara yang disebut Amirul Mukminin adalah di Madinah dibawah pimpinan Shohabat Umar Bin Khothob.
Ketika Sayyina Umar bin khothob menjabat Kepala Negara mencapai tahun ke 5 beliau mendapat surat dari Shohabat Musa Al As’ari Gubernur Kuffah, adapun isi suratnya adalah sebagai berikut :
“KATABA MUSA AL AS’ARI ILA UMAR IBNUL KHOTHOB. INNAHU TAKTIINA MINKA KUTUBUN LAISA LAHA TAARIIKH.”
Artinya: Telah menulis surat Gubernur Musa Al As’ari kepada Kepala Negara Umar bin Khothob. Sesungguhnya telah sampai kepadaku dari kamu beberapa surat-surat tetapi surat-surat itu tidak ada tanggalnya.
Kemudian Kholifah Umar bin Khothob mengumpulkan para tokoh-tokoh dan shohabat-shohabat yang ada di Madinah.
“FAJAMAA’A UMAR AN NAASI LIL MUSYAAWAROTI, Maka mengumpulkan Umar bin Khothob untuk mengadakan musyawarah.”
Didalam musyawarah itu membicarakan rencana akan membuat Tarikh atau kalender Islam. Dan didalam musyawarah muncul bermacam-macam perbedaan pendapat. Diantara pendapat tersebut adalah sebagai berikut:
Ada yang berpendapat sebaiknya tarikh Islam dimulai ari tahun lahirnya Nabi Muhammad SAW.
Ada yang berpendapat sebaiknya kalender Islam dimulai dari Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rosululloh.
Ada yang berpendapat sebaiknya kalender Islam dimulai dari Rosululloh di Isro Mi’roj kan .
Ada yang berpendapat sebaiknya kalender Islam dimulai dari wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Sayyidina Ali krw. Berpendapat, sebaiknya kalender Islam dimulai dari tahun Hijriyahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah atau pisahnya negeri syirik ke negeri mukmin. Pada waktu itu Mekkah dinamakan Negeri Syirik, bumi syirik.
Akhirnya musyawarah yang dipimpin oleh Amirul Mukminin Umar Bin Khothob sepakat memilih awal yang dijadikan kalender Islam adalah dimulai dari tahun Hijriyah nya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Kemudian kalender Islam tersebut dinamakan Tahun Hijriyah.
Jadi adanya ditetapkan tahun Hijriyah itu dimulai dari Sayyina Umar bin Khothob menjabat Kepala Negara setelah 5 tahun. Sebelum itu belum ada tahun Hijriyah baikpun jaman Rosululloh hidup maupun jaman shohabat. Dan tahun Hijriyah mulai diberlakukan bertepatan dengan tahun 640M. Setelah tahun Hijriyah berjalan 5 tahun kemudian Shohabat Umar Bin Khothob wafat.
( Keterangan ini diambil dari Kitab Tarikh Umam wal Muluk, ditulis oleh Muhammad bin Jarir At Thobari, yang dikenal dengan nama Tarikh Thobari. Kitab ini jumlahnya 12 jilid besar, setiap satu jilid tebalnya 250 halaman).
Kesimpulan :
Yang tersebut di atas adalah sejarah singkat nya tahun Hijriyah. Tahun Hijriyah itu dimulai pada waktu Shohabat Umar bin Khothob menjabat kepala Negara mendapat 5 tahun jalan. Yang asal mulanya dari adanya surat dari Shohabat Musa Al As’ari, Gubernur Kuffah. Pada waktu Kuffah masuk wilayah Negara Madinah. Adapun sekarang Kuffah menjadi wilayah Negara Irak. Mesir sekarang sudah menjadi Negara sendiri, Yordania sudah jadi Negara sendirim, Turki jadi Negara sendiri, Palestina jadi Negara sendiri, Persi menjadi Negara Iran. Yaman, Syiria, Bahrain, Emirat Arab, Quait, Qatar dan lainnya menjadi Negara sendiri semua Pada waktu dulu semua Negara itu dibawah kendali pemerintahan Sayyidina Umar bin Khottob. Padahal waktu itu umat Islam masih sedikit akan tetapi bisa mengusai Negara yang sangat luas itu. Sebabnya umat Islam waktu itu TIDAK SEPERTI BUIH. Adapun sekarang banyak umat Islam akan tetapi dalamnya keropos. Siapa yang takut dengan buih?.
(Syaih Muchammad Muchtar Bin Al Hajj Abdul Mu’thi, Dalam Pengajian Peringatan Tahun Baru Hijriyah 3 Muharrom 1425H/ 23 FeBruari 2004M).
Selengkapnya...
Selasa, 17 November 2009
BANGUNLAH WAHAI PEMUDA…..
oleh Gindah Mustanirrah (Kemuslimahan LDK ATH-THABRANI)
"Bagi Anda yang menyadari semakin kacaunya negeri ini. Semakin maraknya privatisasi, yang membuat kekayaan negeri ini dinikmati sebagian kecil orang saja. Arogannya aparat yang saling pamer kekuatan dan keuasaannya. Congkaknya para penguasa dan wakil rakyat yang suka foya-foya. Rakyatpun menjadi sengsara akibat ketidakadilan. Anda bisa berkata: “negeri ini butuh langkah perubahan”. Belajar dari pengalaman diatas, tentunya langkah kita tak lagi berpijak pada 'Jalan lama' kapitalisme. Tapi Langkah di jalan baru yang harus dilakukan mahasiswa. Jalan Islam," (Dakwah kampus.com)
Pada tanggal 18 oktober 2008 lalu, para pemuda Indonesia dari ujung Sumatra hingga Papua Berkumpul di lapangan Hall Senayan Jakarta. Kongres Mahasiswa Islam Indonesia (KMII) yang menjadi awal langkah menuju perubahan Indonesia . Di dalam kongres ini dibahas dengan pembahasan intelektual bertema "Membangun Indonesia yang Lebih Baik" di bidang ekonomi, bidang politik, bidang sumber daya alam dan bidang pendidikan.
Sejak kemerdekaan hingga lebih dari enam dekade, sekulerisme mengatur Indonesia, terlepas dari siapa pun yang berkuasa. Hal yang sama juga terjadi di negeri-negeri muslim lainnya. Sistem sekuler telah menyebabkan rakyat terus menerus hidup dalam berbagai krisis yang tidak berkesudahan. Sampai saat ini fakta kemiskinan, kebodohan, kedzaliman, ketidakadilan, disintegrasi dan berbagai problem lain, termasuk penjajahan dalam segala bentuknya, senantiasa mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya. Sistem sekuler telah mengakibatkan potensi sumberdaya alam dan kekayaan mineral yang sangat melimpah tidak mampu membuat rakyat hidup dalam kebaikan. Justru sebaliknya, rakyat hidup dalam penderitaan. Semua potensi dan kekayaan alam yang dimiliki seolah tidak memberikan arti apa-apa buat hidup rakyat (dakwah.kampus.com)
Pemuda adalah aset strategis sekaligus menjadi dambaan umat, bila membaca sejarah islam pasti ditemukan bahwa pemuda merupakan tulang inti kekuatan perjuangan. Masa muda merupakan tahapan hidup yang potensial.
Abdullah Nashih Ulwan, seorang inteletual muslim, Pernah menggambarkan bahwa gelora pemuda adalah Romantisme perjuangan. Pemuda selalu memunculkan dirinya sebagai manusia yang memiliki kekuatan (power) sehingga eksistensi jiwa mudanya benar-benar memancar dan diperhitungkan oleh lingkungannya. Karenanya, pemuda tak segan-segan berusaha sekuat tenaga dan berkorban dengan segala yang dimiliknya untuk apa yang diinginkan.
Pemuda mempunyai banyak kekuatan. Lihatlah pemuda bernama Ibrahim, yang dengan gigihnya menegakkan tauhid dan menumbangkan berbagai fenomena kemusrikan pada masa kekuasaan Raja Namrudz. Atau anaknya Ismail, yang rela mengorbankan dirinya demi menjalankan perintah Allah yang ada dalam mimpi Ayahnya. Ia tumbuh cerdas dan sholeh hingga direkam indah dalam Al-quran As-Shaffat :102
Maka merugi sekali para pemuda yang menghabiskan waktunya untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. sebagai sosok potensial yang dapat memaksimalkan segala kemampuannya maka pemuda perlu pembinaan secara kondusif. Pemuda adalah kekuatan yang luar biasa. Kekuatan dan kualitas yang dimiliki ternyata sangat menentukan keberlangsungan suatu bangsa. Dengan pembinaan yang baik, Pemuda akan menjadi aset penting sabagai tonggak perubahan.
Lantas dimanakah sosok pemuda itu?? Yang siap dibina menuju kebangkitan berfikir dan menuju kebangkitan umat?
Potret Pemuda Zaman Rasulullah
Diawal perjuangan Rasulullah Saw, para pemudalah yang beringan tangan menerima Risalahnya. Mereka orang-orang yang pertama kali menerima sekaligus orang-orang yang pertama kali memperjuangkannya. Sehingga, tidak berlebihan bila Rasulullah berpesan :
“ saya wasiatkan para Pemuda kepadamu dengan baik, sebab mereka berhati halus. Ketika Allah mengutus diriku untuk menyampaikan agama yang bijaksana ini, maka kaum mudalah yang pertama-tama menyambut saya, sedang kaum tua menentangnya”.
Spektakuler pujian Rasullullah kepada mereka. Tetapi kehebatan mereka tidak terlepas dari pembinaan yang dilakukan Rasullulah terhadap mereka. Lihatlah bagaimana sejarah mencatat bahwa begitu hebatnya pembinaan yang Rasulullah lakukan pada pemuda-pemuda, sehingga mereka berhasil menjadi generasi penentu, generasi pertama yang membawa perubahan sangat besar: yakni kegelapan menuju Cahaya.
Ada banyak figur pemuda di Zaman Rasulullah yang segala sepak terjangnya membuat kita terkagum-kagum. Figur-figur itu seperti:
1. Ali bin Abi Thalib yang dibina sejak usia 8 tahun
2. Zubair bin Awwam dibina sejak usia 8 tahun
3. Arqam bin Abi Arqam dibina sejak usia 16 tahun
4. Ja’far bin Abi Thalib dibina sejak usia 8 tahun
5. Shahih ar Rumi dibina sejak usia 19 tahun
6. Zaid bin Haritsah dibina sejak usia 20 tahun
7. Saad bin Abi Waqqas dibina sejak usia 17 tahun
8. DLL
Dengan pembinaan yang luar biasa, generasi pertama ini telah sukses menaklukkan 2 negara adidaya saat itu, yakni Romawi dan Persia, hingga meluas ke Syam(Syiria), Mesir, Irak, Afrika Utara, dalam waktu 35 tahun selama masa Khulafur Rasyidin. Hingga masa Daulah Umayah dan Abbasiyah, islam meluas ke Negara india dan perbatasan negri Cina, sedangkan kearah barat mencapai Andalusia.
Sobat, pernahkah kau mendengar kisah nyata Shalauddin Al Ayyubi juga Muhammad Al Fatih? Mereka adalah para pemuda yang memiliki jasa besar terhadap penyebaran islam. Muhammad Al Fatih dalam usia 24 Tahun mampu memimpin pasukannya menaklukan Konstatinopel pada bulan Mei 1453M, padahal sudah 800 tahun kaum muslimin menunggu saat-saat tersebut dengan 6 kali gagal dalam penyerangan. Sebuah penaklukan yang gemilang dalam sejarah islam. Sementara Shalauddin Al Ayubbi dalam usia yang juga sangat muda, berhasil menahan gempuran pasukan Salib pada perang Salib yang termasyur dalam sejarah. Belum lagi para mujahid-mujahid muda di Palestina, yang hingga kini masih berjuang melawan Yahudi Laknatullah. Peluru-peluru Syahid menjemput mereka.
Sobat, kita harusnya malu, jika tidak mampu merubah diri. Potret-potret pemuda diatas seharusnya mampu membuat kita intropeksi diri dengan usia kita sekarang. Jika pada usia 18 Tahun Usamah bin Zaid sudah dipercaya untuk memimpin pasukan muslimin yang besar, coba…apa yang bisa kita lakukan dengan usia yang sama? Paling-paling sedang meratap karena gagal bercinta. Dih…picisan…
Sudahkan kita mengukir prestasi untuk Negara dan Agama kita? Ataukah kita masih bergulat dalam angan-angan kosong, membangun mimpi yang tak pernah kita coba realisasikan dalam kehidupan nyata?? Menjadi para pemuda yang justru tak berarti apa-apa bagi apapun….
(gm/berbagai sumber)
Selengkapnya...
Kamis, 29 Oktober 2009
Harapan Semu Rakyat Bisu
Oleh :Mustanirrah Gindah (Kemuslimahan LDK Ath-Thabrani Universitas Abdurab)
“Bohong kalau demokrasi adalah jalan keadilan
DEMOKRASI adalah alat bagi eksistensi ideologi KAPITALIS
Memaksa Indonesia harus jadi pelayan
Menghamba dan jual kedaulatan kepada para IMPERIALIS
Bohong kalau mereka bilang DEMOKRASI kedaulatan di tangan rakyat
DEMOKRASI adalah KEDAULATAN di tangan PENGUSAHA
Maka seluruh UU tidak berpihak pada masyarakat
UU Migas; UU Ketenagakerjaan; UU Privatisasi Air; UU Badan Hukum
Pendidikan; UU Mineral dan batubara
Bohong kalau DEMOKRASI kekuasaan di tangan rakyat
DEMOKRASI adalah KEKUASAAN di tangan Pemilik Modal
Penguasa menjadi pengusaha terhadap rakyat.
Rakyat beli sembako, minyak dan gas dengan harga yang sangat mahal
Modal produksi minyak 500 rupiah dijualnya lima ribu
Itu pun mereka bilang masih merugi
Rugi kalau tak untung lebih dari puluhan ribu
Inginnya untung segunung dan rakyat dibiarkan mati
Lahan mata air terkapling sudah
Pompa-pompa kecil tak bisa berfungsi dan aliran air terhenti
Rakyat kini hanya bisa pasrah
Karena harus membeli air di tanah airnya sendiri”
Petikan Puisi diatas berjudul Kebohongan Demokrasi yang ditulis Ir.Latifa Musa, pemerhati sosial. Benar dalam pusi itu bahwa kedaulatan hanya ditangan para pengusaha. Omong kosong jika dikatakan sebagai suara rakyat.
Pelantikan presiden pada 20 oktober 2009 lalu banyak menyorot perhatian masyarakat. Gema “lanjutkan” terdengar untuk kembali melanjutkan pemerintahan sebelumnya. Kebijakan-kebijakan yang pro rakyat tentu dinantikan. Suara-suara menuntut kesejahteraan seperti pedagang menjajakan dagangan, kesehatan diharapkan punya kualitas dan pelayanan baik, pendidikan menjadi terjangkau, dan yang tak kalah terdengar, suara untuk segera menasionalisasi aset-aset bangsa yang sudah digenggam asing.
Janji kampanye presiden dan wapres terpilih hanyalah “angin surga”. Masyarakat yang mendengar janji-janji pasangan ini sebaiknya jangan terlalu berharap akan diapresiasi kepentingan-kepentingannya. Jargon ekonomi kerakyatan hanyalah neoliberalisme yang dihaluskan perkataannya.
Dalam pidato perdananya sebagai penguasa negri ini, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) jelas-jelas mengungkapkan bahwa akan banyak kebijakan mendorong pasar bebas. Artinya, para spekulan dari berbagai Negara bebas bertransaksi jual beli saham, komoditas dan valuta asing. Politik luar negri akan lebih “vulgar” dari sebelumnya, artinya akan lebih aktif mendukung dan terlibat pada agenda-agenda PBB, kita tahu bahwa lembaga ini hanyalah underbow dari Amerika serikat.
Kebebasan atau liberalisme yang dianut psangan ini tentu tidak akan membuat rakyat terpenuhi keinginannya. Lima tahun sebelumnya sudah terbukti, pelan tapi pasti kekayaan alam dimiliki Indonesia telah diprivatisasi, akibatnya subsidi dicabut dan rakyat tidak mendapatkan hak-haknya. Contohnya kasus Freeport di Papua, daerah yang kaya akan emas ini justru dikelilingi oleh orang-orang miskin. Semua terjadi karena Indonesia tenyata hanya mendapatkan sedikit persen saja dari kekayaan alamnya. Kasus serupa juga terjadi pada Blok Cepu.
Pengumuman susunan nama kabinet sudah seperti reality show, berhari-hari rakyat menyaksikan siapa yang akan mendapatkan apa. Dan akhirnya, kue-kue kekuasaan itu selesai dibagikan. Dan hasilnya?? juga bisa dipastikan tidak akan memihak rakyat. Wajah-wajah lama terus menghiasi pentas kekuasaan. Disamping sejumlah nama-nama baru yang ternyata pesanan. Nama-nama seperti Sri Mulyani, Marie eka pangestu, dan sejumlah nama lain bertahan, padahal jelas bahwa mereka para lulusan universitas Berkeley Amerika Serikat ini sesungguhnya bekerja untuk siapa. Dan yang sangat terlihat jelas ialah terpeilihnya Endang R. Sedyaningsih sebagai mentri Kesehatan, yang awalnya diprediksi akan dijabat oleh Nila Djoeita Moeloek yang sempat hadir di Cikeas untuk mengikuti serangkaian tes. Endang sebelumnya tak terlihat mengikuti seragaman tes seperti kesehatan, kelayakan sebagaimana halnya mentri-mentri yang lain, tapi entah karena apa, Dimenit-menit akhir pengumuman Kabinet, tiba-tiba namanya dicatut SBY sebagai mentri, padahal sebagai mana yang diuangkapkan oleh Siti Fadila Supari selaku Menkes 2004-2009 bahwa Endang pernah membawa virus flu burung keluar negri tanpa izin, yang menyebabkan ia akhirnya di Mutasi (Republika,23/10/09). Keterlibatan Endang Pada Namru 2 (Naval medical Research Unit 2) dan akhirnya menjadi Menkes periode 2009-2014 sangat disesalkan semua pihak. Kecurigaan ada intervensi asing juga dikemukakan oleh Ribka Tjiptaning, komisi IX DPR, “Amerika Serikat bisa jadi dibalik pemilihan Endang sebagai Menkes”(detik.com/22/10/2010). “DPR akan meminta klarifikasi atas peryataan Endang yang akan melanjutkan kerjasama dengan AS”.(Republika,23/10/2010). Meskipun Endang membantah bahwa ia adalah agen asing, tetapi pernyataan-peryataan Endang diberbagai media tidak dapat dipungkiri lagi, “saya akan melanjutkan kembali kerjasama penelitian dengan AS, mengingat Indonesia butuh Teknologi dan pengetahuan dari AS”( Republika,23/10/2010)
Ini menunjukan semakin jelasnya bahwa kebijakan-kebijakan yang mneyangkut perkara-perkara yang dapat menguntungkan para kapitalis sengaja didesain secara integral oleh kelompok penguasa yang berhaluan liberal ini. Maka tidak aneh jika kemudian keadaan negri ini semakin liberal, karena semua masalah dinegri ini bermuara dari perubahan pada level kebijakan strategis yang semakin liberal.
Perlu untuk diketahui, ada 8 agenda liberalisasi yang kini menjadi Neo liberalisme, yakni:
Mendorong pasar bebas
Privatisasi BUMN
Membuat deregulasi, yakni membuat aturan yang membatasi perusahaan; misalnya peraturan perusahaan asing yang dilarang mendirikan Pom Bensin di Indonesia kini sudah dicabut.
Liberalisasi dengan membuka pasar dan menghilangkan penghalang, seperti pajak yang membatasi ekspor dan Impor
Pengurangan peran pemerintah dalam pembangunan
Pengurangan pajak bagi kalangan menengah atas
Memotong pelayanan publik, seperti Privatisasi pendidikan, rumah sakit dsb.
Mengurangi segala bentuk subsidi, seperti BBM, air, listrik, pangan dll.
Wajibnya Penerapan Islam
Islam telah mewajibkan penguasa untuk menjalankan roda pemerintahan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Sebab, kekuasaan itu disyariatkan untuk menegakkan dan menerapkan hukum-hukum Allah swt. Kekuasaan dan pemerintahan tidak disyariatkan semata-mata untuk menciptakan kemashlahatan di tengah-tengah masyarakat, akan tetapi, ditujukan untuk melaksanakan hukum-hukum Allah swt. Untuk itu, setiap persoalan harus dipecahkan berlandasarkan hukum Allah.
Hukum yang diberlakukan untuk mengatur urusan kenegaraan dan rakyat, hanyalah hukum yang bersumber dari Al-Kitab dan Al-Sunnah. Bukti yang menunjukkan hal ini sangatlah banyak, diantaranya adalah firman Allah swt berikut ini;
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” ]TQS Al Maidah (5): 44].
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” [TQS Al Maidah (5):47].
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” [TQS Al Maidah (5): 45]
Ayat-ayat ini telah memberikan batasan yang sangat jelas kepada kepala negara agar ia mengatur urusan-urusan rakyatnya hanya berdasarkan hukum-hukum Allah swt. Dengan demikian, seorang penguasa dalam menjalankan urusan pemerintahannya harus terikat dengan syariat Islam. Seorang kepala negara dilarang memecahkan suatu masalah berdasarkan hukum kufur atau berusaha mengkompromikan Islam dengan sesuatu yang bukan berasal dari Islam. Allah SWT berfirman dalam khithab-Nya kepada Rasul;
وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati- hatilah kamu kepada mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu” (TQS. Al Maidah [5]: 49).
فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ
“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (TQS. Al Maidah [5]: 48).
Kegemilangan islam dengan penerapannya sudah terdengar seantero dunia. Sejarah mencatat dengan tinta emas, selama 14 abad islam menguasai dunia dengan Khilafahnya, Kesejahteraan, kemakmuran, jaminan atas kesehatan, keamanan, sampai pada bidang pendidikan. Semua diberikan Allah sebagai dampak penerimaan dan pelaksanaan hukum islam. Jadi, jika hari ini negri dengan sejuta potensi alamnya justru mengalami keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan, lantas salah siapa? Jangan berharap banyak wahai rakyat bisu…
(ahad, 25/10/2009, gm/ berbagai sumber)
Selengkapnya...
Sabtu, 10 Oktober 2009
Apa Jawaban Mereka Terhadap Da’wah ini?
Oleh : Deni Aslem, MEI (Dosen Ekonomi Islam, Ma'had 'Aly Al-Badr)
“(Nuh berkata); Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar engkau mengampuni mereka, mereka memsukan anak jari mereka kedalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.”(QS. Nuh : 7)
Dakwah ini adalah ajakan kepada perjalanan hidup yang penuh kewajiban dan tanggung jawab kepada penyembahan Allah. Bagaimana menyembah Allah dan bagaimana bentuk pengabdian kepada-Nya haruslah difahami sesuai yang didefenisikan al Qur’an :
“Katakanlah : sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”(QS. Al An’am : 162)
Prinsip penyembahan Allah tidak terbatas pada ritual shalat, tetapi termasuk juga keselurahan hidup dan mati. Jadi haruskah melewati kehidupan in dalam sebuah ‘Rumah Ibadah”, atau dalam sebuah rumah perenungan untuk menjalani penderitaan-penderitaan yang berat karena menjauhi seluruh kehidupan dunia, termasuk kebutuhan untuk bertahan hidup ?. Atau haruskah mengambil sikap hidup tanpa usaha dan amal agar dapat hidup stabil sebagai orang yang menyendiri ? Tidak. Manusia haruslah mewujudkan pola Ilahi dalam menjalani semua perihal kehidupannya. Apakah yang oleh manusia itu sendiri dinamakan dengan du-nia pendidikan, dunia ekonomi dan dunia politik, atau yang belum dapat mereka temukan bentuk dan istilahnya, mestilah diperuntukan bagi penyembahan Allah Pencipta kehidupan ini.
Apa reaksi mereka ?. Ternyata hanya orang beriman sejatilah yang sanggup menerima ajakan ini. Meraka berkata : “Kami dengar dan kami taat”.
Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka di panggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan : “Kami mendengar dan kami patuh.” (QS. An Nur:51)
Mereka tahu bahwa Allah melihat apa yang mereka kerjakan. Apa yang disangkakan oleh orang-orang jahiliyah tak mengganggu mereka. Karena mereka tidak merasa berkewajiban untuk menunjukkan kepada orang lain keshalihan dirinya, mereka tidak akan mengalami tekanan batin untuk memenuhi kriteria palsu dari konsep keagamaan yang tidak berdasarkan al Qur’an.
Mereka hidup hanya untuk Allah, bekerja hanya untuk-Nya. Mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menggunakan kemampuannya dalam membuktikan kecintaan kepada Allah. Mereka shalat berdasarkan petunjuk yang jelas dari rasul-Nya. Mereka pilih dan menangkan kelompok pendidikan, ekonomi dan politik islam demi lahirnya manusia yang bertanggung-jawab kepada Allah. Mereka senantiasa membela dan membantu ummat yang lahir dari golongan tersebut. Dengan tanpa ragu mereka ceburkan diri dalam resiko dan rintangan untuk terwujudnya kehendak Ilahi di dalam ruang dan waktu-Nya (red; dunia).
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf,mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at pada Alaah dan Rasul-Nya.Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah : 71)
Namun tidak setiap orang bereaksi sebaik ini. Al Qur’an juga menyebutkan mereka yang menolak da’wah ini karena gengsi dan menganggap mu’min sebagai musuh abadi.
“Kecelakaan besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarkannya. Maka beri kabar gembiralah ia dengan azab yang pedih.Dan apabila ia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan.” (QS.Al Jatsiyah : 7-9)
Yang paling aneh adalah mereka yang bersikap ragu-ragu. Jiwa mereka megatakan apa yang benar dan buruk, tetapi di dalam dirinya ada suara yang terus menerus membujuknya untuk tidak meneninggalkan masyarakatnya yang tidak paham dengan kebenaran Islam. Mereka berusaha mensahkan prinsip ini dengan menggunakan cara mempertahankan diri. Mereka kemudian berusaha mencari-cari kesalahan pada agamanya dan orang-orang beriman, agar dapat menghibur diri dengan merasa yakin pendapatnya benar. Inilah orang munafiq.
Dimulai dengan penuh curiga dan prasangka mereka menuduh orang mu’min yang cerdas sebagai orang yang menafsirkan agama seenaknya dan mengunakan agama untuk keuntungan sendiri.
“Maka pemuka-pemuka orang yang kafir diantara kaumnya menjawab : “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu.Dan kalau Allah menghendaki, tentu dia mengutus beberapa malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek-nenek moyang kami yang dahulu.’ (QS. Al Mu’minun: 24)
Tiba-tiba orang yang penuh keraguan ini bersedia menjadi sukarelawan pembela pemahaman menyimpang dari masyarakat jahiliyah. Mereka keberatan dengan cara hidup orang beriman yang meninggalkan segala penyimpangan warisan nenek moyang, dan telah menggantinya dengan gaya hidup sesuai dengan al Qur’an. Mulailah mereka melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang emosional terhadap orang-orang mu’min: “ Apa yang engkau katakan itu ? Apakah engkau mengatakan bahwa yang dikerjakan semua orang itu salah dan hanya kamu yang benar ? Apakah hanya kamu yang telah memahami arti agama yang sejati ?Apakah engkau mengaku lebih bijaksana dari orang-orang beriman lain dan telah menemukan jalan kebenaran ? Seakan-akan kebenaran berpihak kepada meraka yang tetap bersama masyarakat banyak yang penuh penyimpangan.
Bagaimanapun juga, kebenaran tidak bisa diukur dari jumlah penganut (red; masyarakat) yang banyak. Bahkan sebaliknya al Qur’an menegaskan bahwa kebanyakan manusia tidak berada dijalan yang benar.
“Aliif Laam Miiim Raa.Ini adalah ayat-ayat al Kitab (al Qur’an). Dan kitab yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu adalah benar : akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman kepadanya.” (QS. al Ar Ra’d : 1)
Beberapa nabi memiliki pengikut yang cukup banyak, seperti nabi Musa as, Sulaiman as dan Nabi Muhammad SAW. Namun nabi-nabi lain hanya mempunyai sedikit pengikut bahkan tidak ada sama sekali. Mereka memenuhi tugas mereka (red; dakwah ini) dan diberi ganjaran surga tertinggi di akhirat, terlepas berapapun jumlah pengikutnya.
Orang-orang ini, juga tanpa perhitungan, memasyarakatkan ungkapan-ungkapan yang primitif : “Pendidikan Islam tidak memiliki masa depan yang jelas, Pondok pesantren hanya melahir-kan teroris-teroris, Agama harus dipisah dengan negara, Islam yes, partai islam no, Berbisnis dengan jujur adalah kampung-an,tidak berpihak kema-na-mana, netral , Allah lebih tahu siapa yang benar”. Tentu Allah tahu siapa yang benar dan siapa yang tidak, tetapi Ia telah menetapkan yang benar dalam al Qur’an adalah yang memenuhi dakwah ini.
Mereka memicingkan mata ketika sejarah menyatakan bahwa kemerdekaan Indonesia di pelopori oleh orang-orang pondok pesantren yang perhatian terhadap al Qur’an. Memang mereka tidak akan bisa memahami pengorbanan di dalam da’wah ini. Karena mereka menganggap semua orang sama dengan dirinya yang hanya memikirkan kepentingan pribadi dangan kesombongan yang sangat.
Jika prasangka buruk mereka ini telah dibuktikan tidak bermakna, dengan adanya masjid sebagai pusat kebenaran dan lembaga pendidikan Islam, lembaga ekonomi Islam, partai politik Islam, sebagai media pembuktian Islam sebagai rahmat bagi alam, dengan segera mereka membuat lagi perumpamaan-perumpamaan lebih jelek. Karena tujuan mereka bukan mencari kebenaran, bahkan sebaliknya adalah untuk mencari-cari kesalahan.
Inilah orang jahil, sepanjang sejarah akan tetap memakai metode yang sama.
“Sebenarnya mereka mengucapkan perkataan yang serupa dengan perkataan yang diucapkan oleh orang-orang dahulu.” (QS. Al Mu’minun : 81)
Inilah jawaban-jawaban mereka terhadap dakwah ini.
Selengkapnya...


